Usai Merger Indosat-Tri, Siapa yang Mau Menyusul?

Usai Merger Indosat-Tri, Siapa yang Mau Menyusul?

Agus Tri Haryanto - detikInet
Minggu, 19 Sep 2021 17:20 WIB
Teknisi melakukan pemeliharaan perangkat BTS milik XL Axiata yang berlokasi di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, sekitar 9 km dari puncak Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta,  Selasa (8/12/2020). Pemeliharaan dilaksanakan untuk menjaga kualitas layanan serta kenyamanan masyarakat pengguna XL dan AXIS di kawasan gunung Merapi yang banyak terdapat lokasi wisata, XL Axiata juga telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi untuk mengamankan jaringan di tengah aktivitas gunung Merapi yang terus meningkat. XL Axiata memiliki lebih dari 80 BTS yang berada pada radius sekitar 15 km dari Gunung Merapi yang tersebar di wilayah Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten. detikcom/Pius Erlangga
Usai Merger Indosat-Tri, Siapa yang Mau Menyusul?. Foto: PIUS ERLANGGA
Jakarta -

Pemain operator seluler di Indonesia masih terlalu banyak, di mana itu berdampak pada industri yang menjadi tidak sehat. Usai merger Indosat Ooredoo dan Hutchison 3 Indonesia (Tri), siapa yang menyusul?

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengungkapkan agar menciptikan industri telekomunikasi yang sehat dan sesuai, baiknya hanya ada tiga penyelenggara telekomunikasi di Indonesia.

Sementara itu, saat ini jumlah operator seluler di RI ada enam, meliputi Telkomsel, XL Axiata, Smartfren, Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (Net1), Indosat dan Tri. Untuk dua nama terakhir induk perusahaan masing-masing sepakat untuk bergabung menjadi Indosat Ooredoo Hutchison.

"Kalau mau sehat dan bersaing dengan Telkomsel dan Indosat Ooredoo Hutchinson, XL Axiata harus mempertimbangkan merger dengan Smartfren," ujar Heru.

"Salah satu opsi seperti, agar hanya ada tiga pemain. Utamanya Smartfren memang sangat butuh konsolidasi," sambungnya.

Potensi adanya merger jilid berikutnya ada di XL Axiata dan Smartfren. Kedua perusahaan sebelumnya terbuka untuk melakukan penggabungan.

Presiden Direktur & CEO XL Axiata Dian Siswarini mengatakan bahwa saat ini jumlah pemain operator seluler yang beroperasi dinilai terlalu banyak. Hal itu yang menimbulkan persaingan yang menjurus perang harga.

"Konsolidasi itu baik untuk industri, karena industri telco Indonesia saat ini masih terdapat kelebihan jumlah pemain yang membuat persaingan luar biasa, kadang-kadang mendekati brutal," ujar Dian, Selasa (16/2).

Dengan terjadinya operator seluler merger satu sama lain, itu akan berdampak positif bagi industri. Dian berpendapat kalau ada operator seluler lain sedang berupaya merger, perusahaannya mendukung rencana tersebut.

"Nah, apakah XL akan melakukan (merger-red)? Sebetulnya sering saya katakan bahwa dalam beberapa tahun ini, XL dan beberapa operator di Indonesia, barangkali excluding Telkom Group, saling menjajaki satu sama lain," tuturnya.

"Jadi, kalau penjajakan itu kemudian sampai kepada persetujuan, kayak orang mau nikah, itu masuk ke jenjang lebih lanjut. Di XL, stakeholder kita, itu tetap membuka kesempatan atau melihat untuk melakukan merger. Dengan siapa cocoknya, harga berapa, itu pertanyaan berikutnya," kata Dian melanjutkan.

Sedangkan, Deputi CEO Smartfren Djoko Tata Ibrahim mengatakan bahwa mereka menyatakan siap untuk melakukan kolaborasi dengan operator seluler lainnya.

"Smartfren sangat terbuka untuk bekerjasama dengan operator manapun yang memungkinkan tentunya. Smartfren telah merintis beberapa kegiatan atau aktivitas mengarah ke sana (merger). Tapi, seperti jodoh, banyak hal yang mesti diatasi bersama. Secara formal, kita siap merger dengan siapa pun, tergantung kecocokan," ujar Djoko dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (7/1)



Simak Video "Indosat Resmi Merger dengan Tri Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/agt)