Kejar 150.000 Pelanggan
Speedy Unlimited Kembali Dipasarkan
- detikInet
Jakarta -
PT Telkom Divre II Jakarta kembali memasarkan layanan internet Speedy Unlimited setelah sempat dihentikan pada Juni 2005 lalu akibat keterbatasan infrastruktur bandwidth.Demikian tulis Evi Maharani, Manager Public Relations PT Telkom pada detikINET, Jumat (24/3/2006).Speedy adalah akses internet kecepatan tinggi 24 jam yang menggunakan basis teknologi Asymetric Digital Subscriber Line (ADSL) via telepon rumah dan bisa digunakan secara bersamaan. Layanan itu menjanjikan kecepatan downstream 384 Kbps dan upstream 64 Kbps.Saat ini, menurut Evi, pelanggan Speedy di Jabotabek telah mencapai 32.000 pelanggan atau tumbuh 23 persen pada akhir 2005. Speedy sendiri hingga akhir 2006 ditargetkan bisa menembus angka pemasaran sekitar 150.000 pelanggan di Jabotabek."Telkom sangat serius dalam mengembangkan Speedy karena dianggap sebagai revenue generator," klaim Evi dalam tulisannya.Sebelumnya, untuk mengejar target keuntungan, Telkom mengiming-imingi calon pelanggan Speedy di Jakarta dan Tanggerang dengan 14.000 unit modem seharga Rp 500.000 gratis. Untuk biaya aktivasi atau pasang baru Speedy Unlimited, Telkom mengenakan Rp 2,5 juta dengan abonemen bulanan Rp 3,8 juta. Janji Tinggal JanjiMelihat target yang dipasang Telkom, angka 150.000 pelanggan baru mungkin terlalu muluk. Apalagi dengan tarif Speedy yang terbilang mahal. Sebelumnya, Speedy banyak dikeluhkan pelanggan karena kualitas layanannya. Banyak pelanggan di Jabotabek mengeluhkan tagihan Speedy yang seringkali tidak sesuai dengan fakta pemakaian.Tarif Speedy juga dinilai terlalu tinggi dibanding layanan serupa di negara lain. Hal ini sebenarnya telah dipahami Telkom. Saat baru menjabat, Dirut Telkom Arwin Rasyid sempat berjanji akan menurunkan tarif Speedy, dalam masa 100 hari setelah dia mengemban jabatan Dirut. Namun, sampai saat ini tarif Speedy belum berubah. Bahkan ketika ditemui detikINET di suatu acara beberapa waktu lalu, Dirut Telkom itu mangkir dan meminta untuk mengkonfirmasikan hal itu pada Wakil Dirut Telkom Garuda Sugardo dan Direktur Consumer Telkom Guntur Siregar.Waktu itu, ketika dimintai pernyataan mengenai kapan akan diturunkan, Guntur hanya menjawab tanpa bisa memastikan dan terkesan basa-basi. "Mungkin awal tahun depan (2006-red)," ujar Guntur pada wartawan di sela-sela acara RUPS Telkom awal November 2005 lalu.Hal serupa juga dipaparkan Garuda. Dia malah berdalih dengan mengatakan kajian penurunan tarif Speedy saat itu baru berjalan setengahnya dan masih berupaya mencari alternatif lain untuk menurunkan tarif."Proses pengkajian penurunan tarif Speedy baru sekitar 50 persen. Karena yang diutamakan Telkom adalah bagaimana melakukan deployment, supaya Speedy bisa tergelar di banyak kota," kata Garuda kepada detikINET, Selasa (7/2/2006) di Jakarta.Telkom mematok biaya berlangganan per bulan sebesar Rp 300.000, Rp 450.000 dan Rp 800.000, masing-masing untuk paket light, medium dan heavy. Tarif tersebut dinilai jauh lebih mahal dibanding negara tetangga. (rou/nks)
(rouzni/)