Laporan dari Australia
Diplomasi 'Tim Oranye' untuk APRICOT
- detikInet
Perth -
Ini bukan soal tim sepakbola Belanda yang selalu memakai kostum oranye, tapi sekelompok delegasi yang berjuang dengan memakai seragam oranye. Dalam acara APRICOT 2006 di Perth Australia, mereka tampak menonjol.Warna oranye mencolok, meski jumlahnya hanya belasan, tapi cukup membuat peserta workshop, conference, dan tutorial di ajang APRICOT Perth terkesima. Sapaan 'Anda dari Indonesia?' atau 'Anda dari Bali?', banyak didapat.Ya, sengaja para anggota delegasi dari Indonesia yang diwakili oleh APJII bersama Kominfo dan Deplu, menggunakan seragam khusus: oranye. Ditambah dengan para relawan dan peserta dari Indonesia semuanya diberi kaos oranye. Jadinya pada tanggal 27 Februari lalu, anggota delegasi Indonesia oranye semua.Sekelompok warna oranye menunjukkan kekompakan dan kesatuannya ketika pada pukul 17.00 waktu setempat melakukan presentasi di sebuah ruangan standar berkapasitas 40-an orang. Mereka mesti melakukan presentasi di depan para anggota Star Internet Forum dari APIA dan APNIC.Selama sekitar 45 menit presentasi, tampaknya para petinggi APIA dan APNIC cukup apresiasi. Namun demikian, inilah saat yang menegangkan untuk menentukan jadi tidaknya Indonesia tetap menyelenggarakan APRICOT 2007 di Bali.Barangkali terlalu berlebihan bila disebut berjuang. Sebab ini hanya sekadar mempertahankan bidding yang pernah dimenangkan Indonesia sebagai tuan rumah APRICOT 2007. Sebab, setelah terjadi bom Bali yang kedua, beberapa pihak mulai serius dengan keamanan. Akibatnya, meski Indonesia menang bidding bukan tidak mungkin digagalkan jadi tuan rumah karena faktor keamanan.APRICOT, yang merupakan singkatan dari Asia Pacific Regional Internet Conference on Operational Technologies, merupakan sebuah ajang bergengsi tempat berkumpulnya para pakar Internet se-Asia Pasifik untuk melakukan serangkaian diskusi dan workshop. Event ini adalah salah satu impian bagi para engineer TI Indonesia. Bila digelar di Bali, maka biaya bisa murah tapi mendapatkan tutorial dari para pakar internet kelas dunia.Dengan harapan pertumbuhan internet semakin cepat karena SDM semakin bagus, karena langsung mendapat tutorial dari pakar kelas wahid, maka upaya membawa event ini adalah sesuatu yang penting. Maka perlu disusun langkah strategis antara lain dengan melibatkan Kominfo dan Deplu sebagai bukti kesungguhan pemerintah.Di lapangan, selain mengenakan seragam oranye, rombongan delegasi juga melakukan approach dengan peserta-peserta dari seluruh Asia Pasifik yang hadir mengenai segala persiapan event 2007 di Bali.Beberapa roll banner juga dipasang di tempat pelaksanaan, yakni Perth Convention Exhibition Centre semakin menonjol saja wajah Bali. Selain itu, delegasi juga membagikan flyer mengenai APRICOT 2007 dengan desain sederhana.Upaya diplomasi lain, adalah dengan sengaja menyalakan film video dengan 'cerita' mengenai Bali di tempat strategis. "Dinyalakan di sini saja, trus kita tinggal biar main sendiri, nanti kan peserta banyak yang melihat video ini sehingga konsep berpikir mereka adalah Bali," kata Wahyoe Prawoto, salah seorang anggota delegasi Indonesia.Sebenarnya suasana APRICOT memang bukan event yang hura-hura. Ini adalah event di mana para engineer mengikuti serial kelas pelatihan mengenai teknologi-teknologi baru. Para konsultan IT juga banyak yang mengikuti, untuk bisa tetap update terhadap segala kebutuhan pelanggannya ke depan. Sehingga suasananya seperti kuliah di mana setiap orang membawa notebook.Namun bagi para engineer IT dan netter, acara seperti APRICOT ini seperti sorga untuk browsing. Sebab bisa mengakses broadband internet dengan speed 45 sampai dengan 100 Mbps. Dan sebagian besar mereka, masih banyak melakukan pekerjaan di kantornya masing-masing karena setiap saat masih bisa terhubung dengan staf dan bosnya di kantor. Sementara ilmu dan skill tetap update. (sap)Keterangan Foto: Sylvia Sumarlin (kanan) dan anggota 'delegasi oranye' di sela-sela ajang APRICOT 2006, di Perth, Australia.
(wicak/)