Tak Dapat 3G, Bakrie Fokus ke EVDO
- detikInet
Jakarta -
PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) menyatakan tetap optimis dalam mengembangkan layanan telekomunikasinya, meskipun tidak memenangkan lisensi frekuensi untuk teknologi telekomunikasi seluler generasi ketiga (3G) dalam lelang beberapa waktu lalu. Penyedia layanan Esia ini nampaknya mau tak mau melirik layanan lain dengan kemampuan data berkecepatan tinggi setara 3G.Ya, BTEL akan meng-upgrade teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) 2000-lX miliknya dengan layanan CDMA Evolution Data Optimized (EVDO) yang rencananya direalisasikan tahun ini."Dengan meluncurkan layanan EVDO ini, kami ingin menunjukkan bahwa Bakrie Telecom tetap serius dalam mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan pelanggan akan layanan telekomunikasi berkecepatan tinggi," kata Anindya N. Bakrie, Direktur Utama Bakrie Telecom, dalam penjelasan tertulisnya, Senin (13/2/2006).CDMA-EVDO merupakan evolusi dari teknologi CDMA 2000-lX yang dikembangkan oleh Qualcomm Inc yang berbasis di AS. Salah satu kelebihan dari EVDO adalah kecepatan transfer data yang mencapai lebih dari 2,4 mega bit per second (mbps). Kecepatan transfer data EVDO ini mencapai 37 kali lebih cepat dibandingkan kecepatan transfer data GPRS (64 kbps) dan 12 kali lebih cepat dibandingkan teknologi EDGE (200 kbps).Fokus ke EVDOBTEL merupakan salah satu operator yang tidak berhasil memenangkan frekuensi 2,1 GHz dalam tender 3G Rabu (8/2/2006). Dalam tender tersebut, BTEL mengajukan penawaran sebesar Rp 108 miliar untuk satu blok (5 Mhz), dari tiga blok frekuensi yang ditenderkan. Tender itu pun akhirnya dimenangkan oleh Telkomsel (Rp 218 miliar), Excelcomindo (Rp 188 miliar) dan Indosat (Rp 160 miliar) untuk masing-masing blok. Sementara itu, operator lain yang juga tidak menang dalam tender tersebut adalah Telkom dengan harga penawaran Rp 103 milyar. "Kami yakin bahwa setiap operator telah melakukan kalkulasi dan perhitungan bisnis yang seksama terhadap harga penawaran yang mereka ajukan. Namun, menurut hitungan bisnis kami, harga penawaran Rp 108 miliar merupakan angka optimum untuk dapat menjalankan bisnis 3G dengan sehat," jelas Anindya tentang penawarannya waktu itu.Lebih lanjut, Anindya mengatakan bahwa keikutsertaan BTEL dalam tender tersebut didasari pertimbangan bahwa BTEL tetap membuka segala kemungkinan dan mencoba mencermati semua peluang yang ada untuk bisa melayani pelanggannya dengan lebih baik lagi.Menurutnya, meskipun tekhnologi Wideband-CDMA (W-CDMA) di pita frekuensi 1900 MHz merupakan salah satu kemungkinan untuk memberikan layanan data berkecepatan tinggi, namun tekhnologi itu dikatakan bukan satu-satunya.BTEL nampaknya berasumsi dengan teknologi EVDO yang akan diusungnya nanti, akan mampu menyaingi 3G milik operator lain. Dari segi kecepatan transfer data, CDMA 2000-1X EVDO diklaim lebih tinggi dibandingkan dengan kecepatan transfer data W-CDMA yang berbasis Universal Mobile Telecommunications System (UMTS). UMTS yang populer dengan sebutan 3G, memiliki kecepatan transfer data sekitar 2 mbps. Memperhatikan kecepatan transfer data CDMA 2000 lx EVDO, dari segi kecepatan transfer data kelihatannya memang setara dengan layanan 3G.Cukup MurahMenurut Anindya, BTEL sangat diuntungkan karena memilih teknologi CDMA sebagai basis layanannya. Keuntungannya, masih menurut dia, adalah teknologi ini terus dikembangkan berdasarkan platform yang ada sehingga biaya yang dibutuhkan untuk meningkatkan layanan menjadi EV-DO lebih murah bila dibandingkan, misalnya, dengan biaya yang dibutuhkan untuk meningkatkan layanan dari GSM ke W-CDMA. "Kami tetap menggunakan frekuensi yang sama dan BTS yang sama. Yang perlu kami lakukan cukup menambah beberapa perangkat, diantaranya menambah carrier EV DO pada BTS-BTS kami," jelas Anindya.Teknologi CDMA telah banyak diterapkan di negara-negara Asia, Eropa dan Amerika. Saat ini terdapat sedikitnya 147 operator yang telah mengadopsi CDMA 2000 1x maupun EVDO dengan jumlah total pelanggan sebesar 285 juta, dimana 124,9 juta pelanggan berdomisili di wilayah Asia Pasifik. Jumlah ini diyakini akan terus berkembang seiring dengan makin populernya kemampuan teknologi itu dalam menyalurkan data dan suara. (rou)
(rouzni/)