Satelit Telkom-3 Sempat Sukar Diprediksi Jatuh ke Bumi

Satelit Telkom-3 Sempat Sukar Diprediksi Jatuh ke Bumi

Agus Tri Haryanto - detikInet
Jumat, 05 Feb 2021 20:12 WIB
Sejarah Peluncuran Satelit Milik Indonesia
Foto: Internet
Jakarta -

Satelit Telkom-3 yang akan jatuh kembali ke Bumi pada hari ini, Jumat (5/2/2021) sempat susah diperkirakan waktu mendaratnya.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menuturkan pada 30 Januari 2021, satelit tersebut telah mencapai ketinggian kurang dari 200 km dan diperkirakan akan mengalami reentry pada tanggal 5 Februari 2021 antara pukul 14.30 WIB hingga pukul 18.30 WIB.

"Terdapat ketidakpastian dalam prediksi waktu jatuh, karena objek jatuh secara tak terkendali, sehingga orientasi satelit serta hambatan udara yang dialaminya dapat bervariasi. Besarnya hambatan atau pengereman menentukan waktu jatuhnya satelit," ujar Peneliti LAPAN Rhorom Priyatikanto.

Di mana posisi jatuhnya satelit tersebut, Lapan belum bisa memprediksikan dengan akurat. Berdasarkan parameter orbit terbaru dengan epoch tanggal 4 Februari 2021 pukul 22:56 WIB, serta berdasarkan jendela waktu reentry yang disebutkan sebelumnya, perkiraan lokasi jatuh satelit Telkom-3 adalah di sepanjang lintasan yang digambarkan pada peta di bawah ini.

Satelit Telkom-3 akan jatuh kembali ke Bumi.Satelit Telkom-3 akan jatuh kembali ke Bumi. Foto: Lapan

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa proses meluruhnya ketinggian suatu benda antariksa juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca antariksa (selain oleh karakteristik benda bersangkutan seperti massa dan orientasi/sikap).

Rhorom kemudian menyarankan untuk mengetahui kondisi cuaca antariksa saat ini bisa dilihat di Space Weather Information and Forecast Services (SWIFTS) di laman swifts.sains.lapan.go.id. Adapun untuk mengetahui benda-benda antariksa buatan yang sedang melintas di sekitar wilayah Indonesia di bawah ketinggian 200 km bisa dilihat di laman orbit.sains.lapan.go.id/index.php/pemantauan-realtime.

Mengenai satelit Telkom-3 yang jatuh kembali ke Bumi, Lapan telah berkoordinasi dengan Telkom dan badan antariksa Rusia, Roscosmos. Satelit yang berbobot 1,845 ton ini tidak mengandung bahan radioaktif dan diperkirakan sebagian besar massa satelit akan terbakar saat memasuki atmosfer hingga menyisakan 10% hingga 40% massa awalnya.



Simak Video "Deretan Fenomena Astronomi yang Terjadi Pekan Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)