Survei: Belajar Online Lebih Banyak Dilakukan via WhatsApp

Survei: Belajar Online Lebih Banyak Dilakukan via WhatsApp

Agus Tri Haryanto - detikInet
Kamis, 01 Okt 2020 08:24 WIB
Kampung Internet untuk meringankan siswa mengikuti pelajaran online hadir di RW 02, Kelurahan Galur, Jakarta Pusat. Internet gratis itu bisa diakses di balai RW 02.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengungkapkan survei terkait cara siswa melaksanakan pembelajaran jarak jauh selama pandemi COVID-19. Hasilnya, banyak di antara mereka melakukan belajar online dengan memanfaatkan layanan WhatsApp.

Survei tersebut dilakukan sebelum disalurkannya bantuan kuota belajar, di mana peresmiannya dilakukan pada Jumat (25/9) kemarin. Subsidi kuota internet gratis untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), siswa, guru, mahasiswa, dan dosen selama empat bulan dari September-Desember 2020 yang menyerap anggaran sebesar Rp 7,2 triliun.

"Survei yang dilakukan teman-teman Kemendikbud bulan Mei 2020. Selama adik-adik belajar dari rumah ini, aktivitas yang paling banyak dilakukan itu mengejarkan dari bapak-ibu gurunya. Dan, itu sebagian besar dilakukan melalui WhatsApp," ujar Plt Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikbud M. Hasan Chabibie dalam diskusi virtual, Selasa (29/9).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan survei terkait kegiatan belajar-mengajar selama pandemi COVID-19.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan survei terkait kegiatan belajar-mengajar selama pandemi COVID-19. Foto: Screenshoot

Aktivitas tersebut rupanya sama rata dilakukan, mulai dari jenjang pendidikan SD, SMP, SMA, hingga SMK. Setelah itu, cara-cara siswa belajar dari rumah melalui belajar dari TV, belajar dari teks pelajaran, sampai belajar dari aplikasi sumber pembelajaran online.

"Dari grafik ini, bisa dilihat bahwa semakin tinggi jenjang ke SMP, SMA, SMK, itu konsumsi internetnya semakin tinggi. Tapi, ada satu yang sama, yaitu bagaimana anak-anak mengerjakan soal-soal dari bapak-ibu gurunya rata-rata menggunakan aplikasi WhatsApp," jelasnya.

Dari survei yang sama, Kemendikbud juga mengungkapkan sejumlah hambatan kegiatan belajar-mengajar selama pandemi. Tidak dapat bertanya langsung ke guru, kesulitan memahami pelajaran, kurang kosentrasi, bosan, hingga urusan jaringan internet kurang memadai.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan survei terkait kegiatan belajar-mengajar selama pandemi COVID-19.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan survei terkait kegiatan belajar-mengajar selama pandemi COVID-19. Foto: Screenshoot

"Termasuk jaringan internet yang kurang, bisa dimaknai kualitasnya kurang atau keterbatasan anak untuk membeli kuota data internet itu yang juga persentasenya cukup tinggi," kata Hasan.

"Ini juga salah satu masalah serius yang harus kita selesaikan selama belajar dari rumah. Tentu, sekali lagi, internet menjadi salah satu kunci supaya sekian obstacle yang adik-adik alami selama belajar dari rumah itu teratasi dengan baik," sambungnya.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengingatkan bahwa WhatsApp termasuk layanan yang digratiskan, karena termasuk Kuota Belajar.

"Jangan lupa, untuk ibu, orangtua juga, bahwa WhatsApp masuk, sekali lagi tolong diingatkan WhatsApp masuk ke dalam Kuota Belajar," jelasnya.

Sebagai informasi, dalam bantuan kuota internet gratis ini terbagi ke dalam dua, yaitu Kuota Umum dan Kuota Belajar. Kuota umum merupakan kuota data yang dapat digunakan untuk mengakses seluruh laman dan aplikasi. Sedangkan kuota belajar adalah kuota data yang hanya dapat digunakan untuk mengakses laman dan aplikasi pembelajaran yang terdaftar. Daftar lengkapnya bisa dilihat di sini.

"Kalau ternyata akses WhatsApp tidak ada dalam Kuota Belajar, langsung laporkan ke operator seluler, dilaporkan kalau tidak bisa," pungkasnya.



Simak Video "Pengamat Pendidikan Sebut Kuota Belajar Bukan Solusi untuk Siswa"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/rns)