Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kisah SMS 'Mgkt' yang Hebohkan Rombongan Presiden SBY

Kisah SMS 'Mgkt' yang Hebohkan Rombongan Presiden SBY


- detikInet

Jakarta - Menulis pesan SMS dengan menggunakan singkatan kata-kata atau simbol ungkapan memang menguntungkan. Penulisan pesan lebih cepat selesai dan ibu jari tidak terlalu pegal. Berkurangnya jumlah huruf berarti menghemat ongkos pengiriman. Pesan panjang yang seharusnya dikirim dalam dua atau tiga SMS bila ditulis lengkap, kini cukup hanya satu atau dua kali saja. Lumayan, irit Rp 250-350 per SMS. Tapi lain ceritanya bila kita salah tulis atau si penerima pesan tidak memahami singkatan itu. Hal itu bisa memicu salah pengertian dan merepotkan banyak orang yang tak terbayang sebelumnya. Tidak terkecuali rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah menjadi korban salah paham singkatan kata SMS. Kasus terakhir, terjadi di hari pertama kunjungan kenegaraan ke Thailand pada 15 Desember 2005. Sore itu rombongan Presiden dan Ibu Negara Ani Yudhoyono tengah dalam perjalanan menuju gedung Universitas Thammasat, Bangkok. Di sana Presiden akan menerima gelar doktor kehormatan bidang ilmu politik yang dianugerahkan universitas terkemuka itu. Sementara wartawan, staf kepresidenan, protokoler dan Paspampres telah berada di lokasi upacara dua jam lebih awal. Sambil menunggu tibanya rombongan utama, para wartawan menikmati sesi "tidur-tidur ayam". Maklum, padatnya liputan East Asian Summit XI di Malaysia selama empat hari sebelumnya membuat mereka kurang istirahat. Tidak berapa lama, ponsel seorang teman wartawan senior -- sebut saja Y -- berbunyi menandakan ada SMS masuk. Kurang dari dua detik kemudian, ia berseru "Nazarudin Sjamsuddin (Ketua KPU) meninggal". Mendengar ini, belasan punggung yang semula terkulai lemas di sandaran kursi sontak menegak. Para wartawan pun berebut melihat layar ponsel yang menayangkan tulisan berbunyi "Tolong konfirmasi RI1 Nazarudin mgkt dengan vonis dia hasil pilpres tidak sah." Tulisan 'mgkt' ini dipahami oleh Y sebagai singkatan kata 'mangkat', alias meninggal dunia.Sadar pentingnya check and recheck, si wartawan penerima SMS pun mengkonfirmasi ulang perintah redakturnya itu. "Memang Nazaruddin mati? Nggak ada hubungannya pemilu dengan vonis itu," tulisnya. "Ya. Tapi tolong konfirmasi deh karena RI2 sudah kasih komentar." Demikian bunyi SMS balasan Sang Redaktur dari Jakarta. Kata "ya" inilah yang memperkuat keyakinan si wartawan bahwa "mgkt" merupakan singkatan dari kata "mangkat". Jadi kesimpulannya, Nazaruddin Sjamsuddin baru saja tutup usia. Pesan mengagetkan itu pun segera menjalar ke staf kepresidenan yang sedang bersama wartawan di Universitas Thammasat. Pesan pun berlanjut ke staf kepresidenan anggota rombongan Presiden yang sedang mejalu di jalanan kota Bangkok. Tidak lama seorang di antara mereka menelepon kami -- wartawan yang berada di Kantor Wapres, Jakarta -- meminta konfirmasi kebenaran kabar tersebut. Konon di saat bersamaan, ajudan Presiden menelepon koleganya, ajudan Wapres Jusuf Kalla, untuk tujuan yang sama. Kami pun gempar mendengarnya. Demi mendapat kepastian, semua menghubungi koordinator liputan (korlip) di kantor masing-masing meminta konfirmasi. Saluran pesawat televisi di ruang wartawan cepat dipindah ke siaran stasiun televisi swasta yang kerap menampilkan running text. Sambil menanti munculnya informasi yang diharapkan, mereka berspekulasi mengenai penyebab kematian. Perlu diketahui, persis sehari sebelumnya Nazaruddin dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara oleh pengadilan Tipikor atas dakwaan korupsi uang asuransi jajaran KPU senilai Rp 14,8 miliar. "Jangan-jangan kena serangan jantung karena kaget vonis kemarin," celetuk seorang wartawati. Dengan sorot mata iba ia memandang foto Nazaruddin yang menjadi headline di sebuah koran nasional yang kebetulan tergeletak di hadapannya. Dalam foto yang diambil sesaat setelah pembacaan vonis, Nazaruddin terlihat tegar. Ia tersenyum tenang di tengah kawalan polisi saat meninggalkan ruang gedung pengadilan Tipikor. Karena tidak sabar menunggu munculnya informasi yang diharapkan, seorang wartawan lain bernisiatif menghubungi kediaman keluarga Nazaruddin di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kebetulan sekali telepon diangkat langsung oleh Ny Nurida, istri Nazaruddin. "Bagaimana kabarnya hari ini, Bu? Apa Bapak baik-baik saja?" tanya si wartawan setelah sedikit basa-basi. Dari seberang terdengar jawaban dari ibu paruh baya dengan intonasi suara akrab dan tenang. "Alhamdulillah, baik. Bapak juga sehat-sehat saja kok." Di samping lega (karena tidak ada liputan mendadak), mendengar jawaban itu kami jadi bingung juga. Bagaimana bisa Ring 1 Presiden menerima kabar ngaco. Seharusnya hanya informasi kategori A1 (valid dan akurat) yang masuk ke sana, apalagi sedang berada di luar negeri. Jawaban dari Ny Nurida pun cepat kami teruskan ke staf presiden di Bangkok yang minta konfirmasi tadi. Sekitar 15 menit kemudian ia menjawab lewat SMS. "Oke. Thx. Tadi anggota saya salah paham saja memang." Kronologi bagaimana salah paham itu bisa terjadi, terungkap beberapa hari setelah rombongan kenegaraan kembali ke Tanah Air. Tepatnya setelah kami "menginterogasi" anggota rombongan. Mereka menuding "mgkt" biang sumber dari segala kehebohan di atas. Usut punya usut, ternyata 'mgkt' merupakan singkatan Sang Redaktur untuk kata "mengatakan". Bukan "mangkat" sebagaimana pemahaman Y, wartawan si penerima SMS. "Lho 'mangkat' kalau disingkat 'mgkt' kan. Lagian, aku tanya 'Nazar mati', jawabnya 'ya'. Jadi tambah yakin aku," kata si Y membela diri. Di lingkungan Istana Presiden dan Wapres, kini Y mendapat tambahan inisial nama baru. Yaitu MGKT. Tapi MGKT yang ini singkatan dari kata "minggat". (donnybu/)




Hide Ads
LIVE