Minggu, 17 Nov 2019 17:12 WIB

Masih Ada Kesenjangan Jaringan 4G Antara Kota dan Desa di RI

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ilustrasi 4G. Foto: Istimewa Ilustrasi 4G. Foto: Istimewa
Jakarta - Jaringan 4G belum merata di Indonesia. Bahkan, ada kesenjangan konektivitas antara wilayah perkotaan yang padat penduduknya dengan daerah pedesaan berpenduduk jarang.

Temuan ini dilaporkan oleh OpenSignal, sebuah perusahaan swasta yang khusus memetakan cakupan nirkabel secara global. Fakta ini diungkap OpenSignal usai menganalisis ketersediaan 4G dengan mengukur pengguna yang terhubung ke jaringan generasi keempat tersebut di seluruh Indonesia.

OpenSignal menggunakan data sensus dari Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengklasifikasikan kabupaten dan kota ke dalam lima kategori berbebda, berdasarkan kepadatan penduduk.




Kategori pertama itu satu hingga 50 orang per kilometer persegi. Kategori kedua, 50-100 orang per kilometer persegi. Kategori ketiga, 100-300 orang per kilomter persegi. Kategori keempat, 300-1.000 orang per kilometer persegi. Terakhir, lebih dari 1.000 orang per kilometer persegi.

"Kami menemukan bahwa sementara pengguna di daerah berpenduduk padat (Kategori kelima) dapat terhubung ke layanan 4G hingga 89,7% dari waktu, pengguna di daerah berpenduduk paling jarang (Kategori Pertama) dapat terhubung ke sinyal 4G hanya 76% dari waktu - selisih 13 poin persentase," begitu penjelasan OpenSignal dalam keterangan tertulisnya.

Ketika OpenSignal memeriksa waktu yang dihabiskan pengguna yang terhubung ke semua jaringan data seluler (gabungan layanan 3G dan 4G), perbedaan ini berkurang tetapi tetap ada.

Miris! Masih Ada Kesenjangan Jaringan 4G Antara Kota dan Desa di RIFoto: OpenSignal



"Ketersediaan 3G/4G turun 10,3 poin persentase, dari 96,3% di daerah berpenduduk padat (Kategori lima) menjadi 86% di daerah berpenduduk jarang (Kategori pertama)," kata OpenSignal.

Menurut OpengSignal, menutup celah ini bukan hanya tantangan teknis tetapi juga ekonomi. Data ini menunjukkan bahwa pengguna mengalami konektivitas internet seluler terendah di kabupaten dengan kepadatan penduduk terendah dan memiliki proporsi pedesaan yang lebih tinggi. Hal ini karena lebih menguntungkan secara komersial bagi operator untuk terlebih dahulu memposisikan dan meningkatkan jaringan mereka di daerah perkotaan yang lebih padat.

"Kami melihat tren yang sama dalam analisis terbaru kami terhadap negara tetangga Indonesia. Kesenjangan digital perkotaan-pedesaan dalam Ketersediaan 4G melebar hingga 14 poin persentase di Filipina dan meningkat lebih dari tiga kali lipat mencapai 40 poin di Malaysia. Demikian juga, kesenjangan dalam Ketersediaan 3G / 4G mendekati lebih dari dua kali lipat di kedua negara, menempatkan pengguna kami di Indonesia pada posisi yang lebih kuat," tutur OpenSignal.



Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah melihat beberapa peningkatan penting dalam pengalaman jaringan seluler pengguna kami di seluruh Indonesia seiring perkembangannya menjadi ekonomi digital. Dengan siklus hidup 3G yang mencapai kematangan dan 4G menjadi teknologi yang lebih dominan bagi pengguna smartphone, 95% populasi sekarang menggunakan ponsel untuk mengakses internet.

Sebagian besar didorong oleh investasi jaringan yang strategis dan refarming spektrum (800 MHz dan 900 MHz) untuk mengurangi kesenjangan yang di daerah pedesaan, didukung oleh strategi spektrum dan kebijakan investasi dari pemerintah.

Simak Video "Strategi XL Perluas Jaringan 4G di Luar Pulau Jawa"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fyk)