Sabtu, 12 Okt 2019 13:11 WIB

Kisah Bertaruh Nyawa Demi Membangun 'Tol Langit'

Adi Fida Rahman - detikInet
Halaman 1 dari 2
Palapa Ring. Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET Palapa Ring. Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET
Papua - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi Indonesia (BAKTI) boleh bernapas lega, pembangunan Palapa Ring Timur sudah sudah rampung dilakukan. Sebab dalam proses pembangunan tantangan berat harus dihadapi, bahkan harus bertaruh nyawa.

Diceritakan Feriandi Miza, Kepala Divisi Infrastruktur Backbone BAKTI, ketimbang Barat dan Tengah, Palapa Ring Timur punya tantangan yang berat. Tidak hanya digelar kabel serat optic bawah laut, tapi juga kabel serat optik darat dan radio microwave.

Kabel serat optik digelar sepanjang 4.500 kilometer. Seluruh proses penggelaran kabel laut Palapa Ring Timur akan dilakukan menggunakan 3 (tiga) kapal, yaitu Nostag 10, Pacific Guardian, dan Teliri.


"Ini paling panjang di segmen kabel lautnya. Menjangkau NTT, Maluku, Papua Barat hingga Papua. Proses penggelaran kabel laut sejauh ini tidak ada kesulitan berarti, hanya ketersediaan kapal karena terbatas," ujar pria yang kerap disapa Andi ini saat ditemui di Sorong, Papua Barat.

Digelarnya kabel serat optik di darat sempat terkendala pembebasan lahan dikarenakan melalui tanah adat. Selain itu ada masalah medan yang kerap membuat kabel jadi rusak.

"Untuk kabel darat terkait medan, masalah klasik misalnya terpotong dan lain-lain. Sempat juga mengalami penolakan dari masyarakat karena mereka belum mengetahui yang dibawa apa. Pernah juga ada yang sempat dibakar," tutur Andi.

Tapi semua itu belumlah seberapa ketimbang di segmen radio microwave. Pemasangan radio microwave untuk menyiasati daerah yang sulit dijangkau dengan jalur darat.

(ke halaman selanjutnya) (afr/fyk)