'Dengan Rp 3 Triliun, Seluruh Desa Bisa Berdering di 2009'
- detikInet
Jakarta -
Direktur Operasi Pasifik Satelit Nusantara Rian Alisjahbana mengatakan, cita-cita pemerintah untuk menderingkan nusantara dalam program Universal Service Obligation (USO), bisa terlaksana dengan biaya dibawah Rp 3 triliun, bukan Rp 5,1 triliun seperti yang dianggarkan Ditjen Postel. Menurutnya, dengan biaya sebesar itu dan dengan konsep satu desa satu sambungan telepon tetap (SST), sudah cukup untuk mewujudkan rantai telekomunikasi sebelum 2009. Ditjen Postel sebelumnya memperkirakan target itu akan molor dan baru akan selesai pada 2015."Dengan rencana anggaran yang ada sekarang, kami rasa Rp 3 Triliun sudah cukup, bahkan bisa teralisir sebelum 2009. Apalagi jika nantinya kontribusi ditambah, maka akan lebih mempercepat pembangunan USO," ujar Rian di Plaza Arcadia Senayan Jakarta. "Kalau mengenai teknologi, Ditjen Postel sendiri sudah menyatakan bahwa mereka akan menerapkan teknologi netral," tegasnya.Teknologi satelit, lanjutnya, jelas diperlukan apabila pemerintah ingin memecahkan masalah telekomunikasi di Indonesia yang berkarakter negara kepulauan dengan 17 ribu pulau. Rian mengklaim dengan teknologi satelit yang dimiliki perusahaannya, dia optimis seluruh desa itu tak akan lama lagi bisa berdering.Di dalam tender USO yang akan digelar, pemerintah dirasa Rian, seharusnya tidak membatasi jumlah desa yang akan mendapat sambungan telepon. Sebelumnya Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar mengatakan target desa pada 2006 yang akan mendapat sambungan itu sebanyak 8.000 desa dari 43.000 desa yang belum tersentuh telepon."Biarkan jumlah desa menjadi elemen tender yang tidak perlu dibatasi. Bukankah dengan jumlah dana yang tersedia, semakin banyak desa memiliki telepon, semakin bagus dan efisien?" usulnya.Rian juga membenarkan adanya pendapat bahwa belum semua desa membutuhkan telepon, tapi menurutnya, pemerintah berkewajiban memberikan setidaknya satu desa satu sambungan telepon."Pendapat bahwa belum semua desa membutuhkan teleponlah yang menyebabkan kita selalu menunda kewajiban kita untuk melakukan layanan telekomunikasi. Itu merupakan PR (pekerjaan rumah-red) buat kita. Jangan sampai ribuan desa jadi terisolasi," paparnya.Menurut Rian, dengan konsep baru USO yang berupa service based contract, dirasakan akan banyak memecahkan masalah-masalah non teknis yang terjadi pada program USO tahun 2003-2004. Karena dengan konsep ini, lanjutnya, maka operator telekomunikasi juga berkepentingan untuk menjaga kesinambungan layanan dan dapat mempertanggungjawabkannya dalam jangka panjang.Pada 2005 ini, PSN memenangkan kontrak maintenance hasil program USO 2003-2004 yang mencakup portable fixed satellite (PFS) dan very small aperture terminal (VSAT).PSN adalah perusahaan penyelenggara layanan telekomunikasi berbasis satelit swasta pertama di Indonesia dan juga sebagai operator telekomunikasi. Di 2003, PSN dipercaya untuk mengimplementasikan teknologi PFS di 2975 desa di Indonesia. Di 2004, PSN juga dipercaya untuk implementasi PFS dan telekomunikasi berbasis internet protocol (IP-based) di 1617 desa.
(rouzni/)