Jumat, 15 Feb 2019 14:17 WIB

Tumbuh Positif di 2018, XL Klaim Nomor 2 di Indonesia

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: detikINET/Anggoro Suryo Jati Foto: detikINET/Anggoro Suryo Jati
Jakarta - XL Axiata (XL) mengklaim menutup tahun 2018 dengan pencapaian kinerja positif dengan melampaui pencapaian secara rata-rata industri telekomunikasi. Bahkan, XL mengatakan bahwa mereka merupakan operator terbesar kedua di Indonesia.

Dalam laporan yang diberikan, XL mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 0,4% di mana itu lebih tinggi daripada pencapaian tahun lalu. Pertumbuhan ini didorong dari layanan data yang meningkat 13% dibandingkan periode yang sama sebelumnya (YoY). Peningkatan ini juga memperbesar kontribusi pendapatan layanan data pada total pendapatan perusahaan menjadi 80% per akhir 2018, meningkat dari 69% di tahun sebelumnya.

CEO & Presiden Direktur XL Axiata, Dian Siswarini mengatakan sepanjang 2018 merupakan periode yang berat bagi industri telekomunikasi Indonesia, seperti menghadapi penerapan registrasi kartu SIM prabayar dan persaingan harga yang ketat.




"Namun, XL Axiata berhasil mengungguli para kompetitor dan memperkuat posisi sebagai operator nomor 2 di Indonesia. Hasil ini tidak terlepas dari konsistensi kami dalam menerapkan strategi menempatkan layanan data sebagai fokus utama pengembangan bisnis," ujar Dian dalam siaran persnya, Jumat (15/2/2019).

Dian menambahkan, di semester kedua 2018, monetisasi layanan data yang XL lakukan menunjukkan hasil yang signifikan di tengah persaingan yang sangat ketat. Karena itu, XL akan terus melanjutkan monetisasi data lebih lanjut dengan asumsi kondisi industri tetap kondusif untuk melakukannya, guna membangun fondasi bisnis yang lebih berkesinambungan dan kuat untuk tahun 2019.


CEO & Presiden Direktur XL Axiata, Dian SiswariniCEO & Presiden Direktur XL Axiata, Dian Siswarini Foto: XL Axiata


Selanjutnya, Dian menyebutkan bahwa peningkatan pendapatan dari data yang sangat pesat tersebut tidak hanya lebih tinggi dari perolehan industri, namun juga mampu menutup dampak negatif dari penurunan pendapatan layanan tradisional SMS dan voice. Sedangkan operator lain, kata XL, merasakan dampak yang lebih berat dari penurunan kinerja kedua layanan warisan masa lalu tersebut.

Kinerja positif XL ini juga tak lepas dari implementasi strategi dual-brand, yaitu XL dan Axis di mana keduanya mencapai rekor net promoter score (NPS) yang tinggi karena mampu menancap sangat kuat dalam segmen pasar masing-masing dengan produk-produk data yang mendapatkan sambutan sangat baik.

Mayoritas Pelanggan Pengguna Smartphone

XL terus berinvestasi untuk melakukan peningkatan pada transmisi, backhaul, modernisasi jaringan guna mendukung peningkatan lalu lintas data di seluruh jaringannya dan untuk memberikan stabilitas, memperluas kapasitas jaringan dan meningkatkan kualitas layanan datanya.

Hal itu diwujudkan dengan terus membangun jaringan 4G yang saat ini difokuskan di wilayah luar Jawa. Hingga akhir tahun 2018, jaringan 4G telah melayani sekitar 400 kota/kabupaten dengan hampir 30 ribu BTS 4G. Sementara itu, jaringan 3G ditopang lebih dari 51 ribu BTS. Jumlah total BTS milik XL saat ini tercatat sampai 118 ribu BTS.

Tumbuh Positif di 2018, XL Klaim Nomor 2 di RIFoto: XL Axiata


Peningkatan investasi jaringan, terutama 4G di luar Jawa di sepanjang 2018 tersebut telah menghasilkan pertumbuhan pada trafik dan pendapatan data yang sangat kuat. Alhasil, tahun ini wilayah luar Jawa menjadi kontributor utama lain bagi kinerja kuat XL.

Seiring dengan perluasan jaringan, XL pun telah meningkatkan kualitas jaringan dengan menerapkan beberapa teknologi inovatif di sepanjang 2018 dengan melakukan uji coba teknologi 5G dan WiGig pertama di Kota Tua, Jakarta.

Seiring dengan itu, tercatat penetrasi smartphone di jaringan XL meningkat 8 poin persentase menjadi 80% pada akhir 2018 dibandingkan dengan tahun lalu. Salah satu pendorong yang berperan besar pada peningkatan ini adalah program bundling. Daya tarik yang kuat dari program ini mampu mendorong migrasi lebih cepat pada pelanggan 2G ke 4G.



Saat ini XL memiliki total 54,9 juta pelanggan, di mana 43,9 juta atau 80% di antaranya adalah yang sudah menggunakan smartphone. Jumlah pengguna smartphone ini meningkat 15% dari periode yang sama di tahun lalu. Adapun pelanggan XL yang aktif menggunakan layanan data saat ini juga telah mencapai 82% dari total pelanggan.

Total lalu lintas di seluruh jaringan XL Axiata telah mengalami peningkatan 76% YoY di 2018 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya terutama didorong oleh pertumbuhan lalu lintas data yang meningkat dibandingkan dengan penurunan lalu lintas dari layanan legacy (SMS dan percakapan).

Tumbuh Positif di 2018, XL Klaim Nomor 2 di RIFoto: XL Axiata


Hingga tutup tahun 2018, EBITDA mengalami peningkatan sebesar 2% YoY, dengan margin naik 1 ppt menjadi 37,0%. Capaian ini terutama terdorong oleh peningkatan pendapatan dan lebih berfokusnya perusahaan pada efisiensi biaya.

Sementara itu, pada periode kuartal keempat 2018, XL mencatat kenaikan pada pendapatan kotor sebesar 3% dibandingkan kuartal sebelumnya (QoQ). Kenaikan ini melanjutkan kenaikan yang telah diraih secara berturut-turut pada tiga kuartal sebelumnya. Pencapaian ini terutama terdorong oleh pendapatan layanan yang meningkat 6% QoQ, di mana kenaikan data mencapai 9% QoQ sebagai hasil dari suksesnya penjualan dan juga monetisasi data. EBITDA juga naik 8% QoQ dengan margin naik 180 bps menjadi 38,8% karena peningkatan pendapatan dan efisiensi biaya fokus yang berkelanjutan.

Pengurangan Penggunaan Aset 2G

XL mencatat kerugian sebesar Rp 3,3 triliun. Hal ini terutama disebabkan oleh beban biaya penyusutan yang dipercepat. XL mengatakan rugi bersih sebesar Rp 9 miliar setelah dinormalisasi pada akhir tahun 2018. Beban penyusutan yang dimaksud adalah biaya penyusutan yang dipercepat di kuartal keempat 2018 sehubungan dengan pengurangan penggunaan jaringan 2G terutama yang telah dimatikan, dibongkar dan usang atau tidak lagi digunakan.

Terkait dengan program pengurangan penggunaan jaringan 2G yang dimaksud di atas, hal ini merupakan bagian dari pelaksanaan strategi transformasi untuk membawa XL menjadi lebih berfokus pada bisnis data dan menjadi penyedia internet seluler terkemuka di Indonesia. Sejak awal 2018, operator ini telah mulai mengurangi jaringan 2G di area tertentu sambil terus mengurangi kapasitas di area lain di mana penggunaan 2G menurun.




Langkah ini memungkinkan XL untuk memperbarui sebagian besar spektrum yang sebelumnya digunakan untuk 2G sekarang dialokasikan untuk 4G. Inisiatif ini merupakan strategi bisnis perusahaan untuk melakukan modernisasi jaringan yang berkelanjutan.

Akselerasi depresiasi ini murni merupakan penghapusbukuan akuntansi, sebagai hasil dari masa manfaat yang lebih pendek, dan merupakan item non-tunai yang tidak akan mempengaruhi kelangsungan bisnis atau kemampuan untuk melunasi hutang. Selain itu, penghematan biaya dari listrik yang lebih rendah dan sewa serta pengurangan biaya penyusutan akan meningkatkan laba bersih XL di masa depan.

Selama Tahun 2018, XL telah melakukan pembayaran kembali pinjaman bank sebesar Rp 1,65 triliun, pinjaman USD sebesar USD 350 juta, dan sukuk Rp 1.298 miliar melalui kombinasi refinancing dan dana internal. Per 31 Desember 2018, XL telah melunasi seluruh pinjaman USD. (agt/krs)