Minggu, 06 Jan 2019 19:47 WIB

Ambisi BAKTI Tancapkan 5 Ribu BTS Terkendala Dana USO

Rachmatunnisa - detikInet
Salah satu BTS 2G di Desa Waringin, Pulau Morotai, Maluku Utara. Foto: Rachmatunnisa/detikINET Salah satu BTS 2G di Desa Waringin, Pulau Morotai, Maluku Utara. Foto: Rachmatunnisa/detikINET
Morotai - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menutup tahun 2018 dengan pembangunan Base Transceiver Station (BTS) yang melampaui target.

"Dari target di 2018 sebanyak 320 BTS, pencapaian kita 908 BTS, melebihi target yang dicanangkan," kata Direktur Infrastruktur BAKTI Bambang Noegroho, ditemui di sela kunjungan kerja bersama Menteri Kominfo Rudiantara ke Morotai, Maluku Utara pekan ini.

Di tahun 2019, BAKTI memiliki target untuk membangun 5.000 BTS di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) yang tak dijangkau operator telekomunikasi karena tak menguntungkan dari sisi bisnis.



Namun, untuk mencapai target tersebut, BAKTI perlu mengkaji ulang dana USO (universal service obligation) yang tersedia.

"Banyak area yang mau kita kembangkan, ada Palapa Ring, satelit multifungsi untuk akses internet. Untuk 5 ribu (BTS) itu biayanya gak kecil," ujar Nugie, sapaan akrabnya.

Sebagai informasi, dana USO bersumber dari pungutan 1,25% dari pendapatan operator telekomunikasi yang kemudian dikelola oleh BAKTI.

Setoran ini tidak cukup untuk membangun infrastruktur telekomunikasi di 5.000 lebih desa yang akan ditancapkan BTS USO.

Ambisi BAKTI Tancapkan 5 Ribu BTS di 2019 Terkendala Dana Keberadaan BTS 2G di Desa Waringin, Morotai, Maluku Utara membuka akses komunikasi bagi warga setempat. Foto: Rachmatunnisa/detikINET


"Kalau dilihat dari dana USO tidak cukup. Yang terlihat di depan mata, sekitar 160-an (BTS) bisa kita bangun," terangnya.

Jika mendapatkan dana tambahan, BAKTI mengupayakan membangun lebih banyak BTS, baik 2G maupun 4G. Dikatakannya, BTS 4G akan memakan lebih banyak biaya.

Karenanya, pembangunan BTS akan disesuaikan dengan kebutuhan di daerah yang bersangkutan.

"Kalau kecil kebutuhannya, bangun 4G kan lebih mahal, jadi diupgrade saja. Biaya upgrade ke 4G-nya sebenarnya nggak terlalu mahal, yang mahal adalah VSAT-nya (transmisi satelit)," tutur Nugie.

Kebutuhan data juga membuat proses upgrade BTS 2G ke 4G menjadi lebih mahal. Untuk BTS 2G, kebutuhan datanya hanya 512 Kbps.

Sedangkan jaringan 4G memerlukan 4 Mbps, sehingga peningkatan yang harus dipenuhi jika upgrade ke 4G cukup banyak.

"Jadi kami bangun tergantung permintaan. Dari permintaan desa-desa itu juga tidak semua dikabulkan, tapi kita kaji case by case," jelasnya.

Berbicara mengenai rencana di 2019, Nugie menyebutkan bahwa BAKTI bakal meneruskan pemeliharaan 908 BTS yang sudah dibangun.

Ambisi BAKTI Tancapkan 5 Ribu BTS di 2019 Terkendala Dana Usai Palapa Ring Tengah rampung, BAKTI mengejar penyelesaian Palapa Ring Timur pertengahan 2019. Foto: Rachmatunnisa/detikINET


"908 site itu harus di-maintainance. Rencananya kita kontrol dan bangun di internal monitoring sistem untuk melihat layanan yang kita berikan sesuai dengan target," terangnya.

Mengenai ambisi memenuhi target membangun 5.000 BTS yang bakal terkendala dana USO, bagaimana pun Nugie tetap menginginkan lebih banyak desa bisa terselimuti sinyal telekomunikasi.



"Seperti saya bilang tadi, yang terlihat dalam prediksi saya mungkin 160-an BTS. Tapi tentu saja kami berharap 5 ribu desa bisa di-cover," tutupnya. (rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed