Jejak Langkah Bolt, Sang Penggebrak 4G yang Kini Tutup Layanan

Jejak Langkah Bolt, Sang Penggebrak 4G yang Kini Tutup Layanan

Adi Fida Rahman - detikInet
Jumat, 28 Des 2018 20:11 WIB
Jejak Langkah Bolt, Sang Penggebrak 4G yang Kini Tutup Layanan
Layanan Bolt resmi ditutup Kominfo. Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Pada 2013, Internux membuat gempar industri telekomunikasi Indonesia saat melahirkan Bolt. Sayang usianya tidak panjang, kini layanan Bolt ditutup.

Kehadiran Bolt lima tahun lalu memang menyita perhatian. Pasalnya mereka mengebrak dengan layanan 4G LTE secara komersial. Kala itu layanan di jaringan generasi keempat ini tergolong baru, bahkan operator besar saja belum menghadirkan layanan serupa.

Oleh Kominfo, Internux mendapatkan lisensi Broadband wireless Access (BWA) di spektrum 2,3 GHz. Untuk menghadirkan layanan internet cepat di jaringan tersebut, Internux mengucurkan dana investasi senilai USD 550 juta atau sekitar Rp 8 triliun bila mengacu dengan kurs saat ini.

Pada tahap awal Bolt memasang 1.500 base station TDD LTE. Layanan mereka hanya terbatas di area Jabodetabek. Kecepatan minimun yang ditawarkan kala itu 15-20 Mbps, malah di beberapa titik mencapai lebih dari 30 Mbps.




Untuk menikmati layanan Bolt, pengguna harus mempergunakan modem WiFi. Tapi kemudian Bolt merilis ponsel yang dibundling dengan jaringannya.

Tembus 300 Mbps

Upaya untuk terus memanjakan pelanggan Bolt dihadirkan lewat internet super cepat. Setahun beroperasi, mereka memperkenalkan teknologi LTE-A.

Dalam teorinya, kecepatan yang sanggup disodorkan teknologi 4G LTE menembus angka 150 Mbps. Sedangkan versi LTE-A yang merupakan generasi selanjutnya diklaim bakal sanggup memberikan kecepatan koneksi hingga 300 Mbps


Bolt, Sang Penggebrak 4G yang Kini Tutup LayananLayanan Ultra LTE Bolt yang diklaim hadirkan kecepatan 300 Mbps. Foto: detikINET


Usaha terus meningkatkan layanannya berbuah manis pada peningkatan jumlah pelanggan. Pada Februari 2015, Bolt mengklaim pihaknya telah memiliki 1 juta pelanggan.

Tak mau puas sampai di situ, Bolt berupaya terus meningkatkan jumlah pelanggannya. Sebulan setelah mengumumkan pencapaian 1 juta pelanggan, Bolt melebarkan sayapnya ke Medan.

Hal itu dimungkinkan berkat First Media yang memegang lisensi broadband wireless di zona 1 Sumatera bagian Utara. Seperti diketahui PT First Media Tbk telah menguasai saham PT Mitra Media Mantap yang merupakan pemilik Internux.

Di saat bersamaan, persaingan layanan 4G LTE makin memanas. Para operator saling berlomba menghadirkan koneksi cepat di layanannya. Setelah LTA-A, Bolt menghadirkan Ultra LTE.

Di atas kertas Bolt mengklaim Ultra LTE mampu menembus kecepatan hingga 300 Mbps. Hanya saja untuk menikmati ini, pelanggan harus menggunakan perangkat yang mendukung 4G LTE Cat 6.


Baca juga: Bye Bye Bolt...


(afr/krs)