Telkom Butuh Rp 1,36 Triliun untuk Pindahkan Flexi
- detikInet
Jakarta -
PT Telkom Tbk., mengkalkulasi estimasi biaya untuk penggantian terminal dan BTS akibat perubahan frekuensi Flexi 1900 MHz, sebesar Rp 1,36 Triliun (kurs 1 US$ = Rp 10.000). Perubahan frekuensi di setiap BTS diperkirakan memerlukan waktu down time sekitar 10 jam.Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Dirut PT Telkom, Garuda Sugardo, kepada wartawan, di kantor Telkom Divre II, Jakarta, Rabu (27/7/2005).Menurut Garuda, perincian estimasi biaya tersebut adalah Rp 561,6 miliar untuk penggantian perangkat, Rp 756,1 miliar untuk handset dan Rp 7,3 untuk optimasi. Estimasi tersebut dibuat dengan nilai tukar mata uang Rp 9.500 per US$ 1, dan khusus untuk wilayah Divre II dan Divre III yang meliputi propinsi DKI, Jawa Barat dan Banten. Di kedua Divre tersebut, Flexi memakai spektrum frekuensi 1900 MHz.Estimasi biaya tersebut merepresentasikan kondisi teknis yang mendukung Flexi saat ini. Sampai 27 Juli 2005, Flexi didukung 478 BTS di Divre II, dan 163 BTS di Divre III. Garuda mengatakan, hanya 10 persen dari BTS tersebut merupakan BTS dual band 1900/800. Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah berencana untuk membersihkan pita frekuensi 1900 MHz, untuk alokasi 3G. Sebagai konsekuensinya, Telkom Flexi yang menggelar layanannya di frekuensi tersebut, harus rela 'digusur' dari frekuensi tersebut. Indosat lewat produk StarOne-nya juga mengalami nasib serupa.Garuda mengatakan, pada prinsipnya Telkom mendukung penataan frekuensi ini, selama pengelolaannya sesuai dengan azas manfaat."Clean up frekuensi untuk 3G bagus supaya tidak rancu antara frekuensi 2G dengan 3G," kata Garuda. "Dengan syarat nanti diberikan lahan baru, yang sesuai dengan azas manfaat, keadilan dan pemerataan," imbuhnya. Menurutnya Telkom akan meminta kompensasi ke pemerintah. Tapi itu merupakan hal terakhir, setelah pemerintah memberi alokasi frekuensi pengganti yang memadai. "Kompensasinya bisa dalam bentuk cash maupun lisensi," katanya.Down Time 10 JamTelkom, menurut Garuda, selama lima tahun ke depan akan melakukan pengosongan pita 5 MHz (1965-1970 MHz), yang saat ini digunakan untuk operasional Telkom Flexi pada spektrum 1900 MHz. Selama periode tersebut, BTS Flexi akan mengalami pengalihan frekuensi, dari 1900 ke frekuensi baru yang dialokasikan pemerintah untuk Flexi nantinya. "Untuk BTS, migrasi frekuensi memerlukan generator frekuensi yang berbeda. Perubahannya menyangkut disain, ganti software dan proses engineering secara khusus," papar Garuda. "Hal itu membutuhkan waktu putus atau down time selama 10 jam per BTS," katanya.Saat ini, hanya 10 persen dari BTS Flexi yang mendukung dual-band 1900/800 MHz, sementara sisanya masih single band, yang mana hal tersebut memerlukan lebih banyak waktu untuk migrasi. Namun begitu, Garuda mengatakan akan mengusahakan agar proses tersebut tidak merugikan kepentingan pelanggan."Kami memberitahukan bahwa dengan pemindaah frekuensi ini, pelanggan tidak akan mengalami perubahan nomor telepon Flexi," kata Garuda. "Bagi pelanggan yang menggunakan terminal 1900 MHz (single-band), pada saat perubahan frekuensi pelanggan akan mendapatkan penggantian terminal yang setara. Sedangkan bagi pelanggan yang menggunakan terminal dual band, tidak akan mendapat penggantian," paparnya.Sampai 27 Juli 2005, jumlah pelanggan Flexi di Divre II dan III mencapai 1,08 juta. 850 ribu diantaranya (78 persen), menggunakan terminal Flexi CDMA 1900. Sedangkan untuk daerah pengoperasian di Divre-Divre lain, Telkom Flexi beroperasi pada spektrum 800 MHz. Total pelanggan Flexi saat ini adalah 3,7 juta, terdiri dari 860 ribu pelanggan Flexi Classy dan 2,84 juta Flexi Trendy, dan tersebar di 221 kota di Indonesia.
(ketepi/)