Selasa, 06 Mar 2018 17:23 WIB

Mengungkap Bagaimana Data KTP Begitu Mudah Tersebar

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ilustrasi. Foto: Muhammad Ridho/detikINET Ilustrasi. Foto: Muhammad Ridho/detikINET
Jakarta - Data Nomor Induk Kependudukan (NIK) seperti yang tertera di KTP, sudah menjadi rahasia umum. Sehingga memang penyalahgunaan NIK, khususnya terkait untuk registrasi kartu SIM Card prabayar bisa saja terjadi.

Berbicara kepada detikINET, pengamat keamanan siber dari Vaksincom Alfons Tanujaya, menuturkan bagaimana NIK begitu mudah tercecer dengan mudahnya oleh masyarakat.

"Mungkin maksudnya penyalahgunaan NIK untuk registrasi itu perlu diluruskan. Hal ini tak berarti bahwa NIK yang ada di provider itu bocor karena yang maintain database itu kan provider. Jadi, NIK yang bocor itu didapatkan dari berbagai macam sumber kebocoran," kata Alfons, Selasa (6/3/2018).

"Asumsinya kan database dikelola oleh Dukcapil dan data tersebut tidak bocor. Kalau bocor di level Dukcapil sih itu sudah parah abis. Kemungkinan bocor adalah ketika data tersebut keluar dari Dukcapil, sebelum ke tangan pemilik KTP," tambahnya



Ada kemungkinan oknum memanfaatkan celah tersebut. Alfons menyarankan seharusnya dibuat Standar Operating Procedure (SOP) yang baik dan terjamin, sehingga tidak ada peluang kebocoran di sini.

Alfons mencontohkan, seandainya saja petugas kelurahan iseng memfoto semua KTP dan KK yang ada maka dia akan tahu semua nomor NIK.

Selain itu, pemilik NIK sering melakukan aktivitas dengan menyerahkan KTP untuk kebutuhan lamaran kerja, membuka rekening bank, sampai mengajukan aplikasi kartu kredit.

"Di sini NIK-nya akan terpapar dan mudah sekali diketahui," ucap dia.

"Sebenarnya kebocoran NIK itu bukan terjadi di operator telco, tetapi karena dipaksa untuk harus pakai NIK supaya kartunya tidak hangus, maka mulailah orang-orang mencari NIK aspal (asli tetapi palsu) dengan sumber-sumber seperti di atas," ujar Alfons.

Disampaikannya, terkait registrasi SIM Card prabayar ini, Alfons menganggapnya sebagai peluang penyalahgunaan, tergantung orangnya.

Misalnya pemilik SIM Card yang beritikad baik dan ingin memelihara NIK-nya, tentu ia tidak akan main-main dengan identitasnya. Tapi pemilik SIM Card nakal dan ingin menyalahgunakan kartu seluler akan mencari NIK abal-abal karena sudah memiliki niat menyalahgunakan nomor tersebut.



Maka dari itu, Alfons mengimbau agar pemerintah dan operator seluler mencari metode guna memverifikasi atau crosscheck data yang didaftarkan.

"Khususnya untuk SIM card baru harus super ketat. Kalau perlu setiap beli SIM card harus dipersyaratkan memperlihatkan KTP asli. Soal teknisnya, ya biar provider telco yang cari caranya, tetap mempermudah mereka tetapi harus aman dan verified," tutur dia. (fyk/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed