Setelah Melewati Berbagai Rintangan
Pre-Wimax Sudah Tiba di Aceh
- detikInet
Jakarta -
Setelah terbentur berbagai masalah birokrasi dan teknis, perangkat pre-Wimax akhirnya tiba di Aceh. Minggu lalu, perangkat tersebut diberangkatkan ke Aceh, setelah sempat mendekam di gudang Bandara Polonia Medan."Hari ini barang sudah sampai di Aceh," kata Heru Nugroho, juru bicara Air Putih, kepada detikinet, Rabu (25/5/2005). "Kita mulai men-deploy alatnya tanggal 30 Mei. Jadi masih ada beberapa hari untuk persiapan," imbuhnya.Air Putih adalah yayasan yang tergabung dalam konsorsium yang menggarap pembangunan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi di Aceh. Selain Air Putih, konsorsium juga terdiri dari Intel Corporation dan Global Marine (GMSL). Perangkat yang merupakan hibah dari Intel tersebut terlambat masuk Aceh karena terbentur masalah perizinan. Saat ini, konsorsium telah mengantungi letter of no objection yang dikeluarkan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Provinsi NAD dan Nias, sebagai dasar perizinannya.Perangkat pre-Wimax yang didatangkan dari Singapura ini akan dipasang di sejumlah titik di Banda Aceh. Pre-Wimax memungkinkan koneksi internet nirkabel berkecepatan tinggi. Perangkat yang keberadaannya masih langka ini jalan di frekuensi 5,8 GHz dan mamiliki daya pancar hingga 50 Km. Dua orang dari yayasan Air Putih sudah mengikuti pelatihan teknis yang diadakan Intel di Singapura.Meski merupakan hibah, perangkat seberat 800 kg ini mesti menempuh liku-liku panjang untuk sampai di Aceh. Sebelumnya, perangkat sempat tertahan di Medan karena aparat Bea & Cukai setempat mempertanyakan eksistensi BRR yang 'merestui' masuknya perangkat canggih tersebut.Internet di Nias DihentikanPada saat yang sama, Heru juga mengatakan bahwa tim Air Putih dengan terpaksa menghentikan pengadaan internet di Nias. Bukan karena sudah dianggap cukup, melainkan karena terbentur keterbatasan sumber daya."Hari ini kita dengan sangat terpaksa menghentikan pembangunan internet di Nias," kata Heru. "Hal tersebut terpaksa diputuskan karena kita mengalami keterbatasan sumber daya, mulai dari finansial sampai sumber daya manusia," katanya.Menurut Heru, meski internet masih banyak dibutuhkan di Nias, tapi karena keterbatasan energi, hal itu harus dihentikan. "Sumber daya yang tersisa saat ini tidak bisa meng-cover Aceh dan Nias sekaligus. Oleh karena itu kami putuskan untuk lebih fokus ke Aceh," paparnya.Heru mengaku, pihaknya mengerti kenapa bantuan pemerintah minim untuk pembangunan infrastruktur internet di kawasan korban bencana -- karena itu memang bukan prioritas pemerintah. Diceritakan Heru, saat ini tim Air Putih bertahan dengan 'amunisi' yang masih tersisa.
(wicak/)