Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Terkuak! BNPT Ungkap Rekrutmen Teroris Anak Lewat Chat Game

Terkuak! BNPT Ungkap Rekrutmen Teroris Anak Lewat Chat Game


Agus Tri Haryanto - detikInet

Kepala BNPT Eddy Hartono
Terkuak! BNPT Ungkap Rekrutmen Teroris Anak Lewat Chat Game. Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET
Jakarta -

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap pola baru rekrutmen terorisme yang menyasar anak-anak melalui fitur komunikasi di platform game online. Modus ini terdeteksi dalam upaya perekrutan yang dilakukan lewat chat dan voice chat saat bermain game.

Kepala BNPT Eddy Hartono menjelaskan, praktik ini telah dipantau sejak 2024 melalui kerja sama lintas kementerian dan aparat penegak hukum. Salah satu yang jadi sorotan fitur chat di Roblox.

"Pencegahan ini sudah kami lakukan sejak tahun lalu. Kami berkolaborasi dengan berbagai kementerian, lembaga, dan aparat penegak hukum untuk memantau pola rekrutmen ini," ujar Eddy di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta, Kamis (30/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Eddy memaparkan, proses rekrutmen diawali dengan metode yang disebut digital grooming. Pelaku memanfaatkan fitur komunikasi dalam game untuk mendekati anak-anak secara emosional.

"Di tahap awal, mereka membangun empati. Anak-anak diajak ngobrol saat bermain, merasa punya hobi yang sama, bahkan saling curhat. Dari situ muncul kedekatan," jelasnya.

Dalam fase ini, interaksi terlihat seperti komunikasi biasa antar pemain, sehingga sulit terdeteksi sebagai aktivitas berbahaya.

Setelah kedekatan terjalin, korban kemudian diajak keluar dari platform game menuju aplikasi komunikasi lain seperti WhatsApp atau Telegram.

"Di situ masuk tahap berikutnya, yaitu normalisasi. Anak-anak mulai diberikan doktrin-doktrin tertentu, termasuk narasi radikal yang menentang pemerintah," kata Eddy.

Ia menambahkan, dalam kasus yang ditangani, pelaku merupakan simpatisan kelompok teror yang menyebarkan ideologi ekstrem, termasuk propaganda terkait ISIS.

Lebih lanjut, BNPT menyebutkan, setelah proses doktrinasi, tahap berikutnya adalah eksploitasi terhadap korban. Namun, upaya ini berhasil digagalkan lebih awal oleh aparat.

"Alhamdulillah sebelum masuk tahap eksploitasi, kami bersama aparat penegak hukum berhasil melakukan pencegahan melalui pendekatan hukum," kata Eddy.

BNPT mengingatkan bahwa ruang digital, termasuk game online, kini menjadi medium baru penyebaran paham radikal. Karena itu, peran orang tua dinilai krusial dalam mengawasi aktivitas anak.

"Anak-anak tidak dilarang bermain game, tapi harus ada pendampingan. Mereka perlu tahu risiko interaksi dengan orang asing di dunia digital," pungkasnya.




(agt/afr)





Hide Ads