Rabu, 08 Nov 2017 15:03 WIB

Data Registrasi SIM Card di Malaysia Bocor, di Indonesia?

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: Hasan Alhabshy Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Kebocoran informasi pelanggan seluler Malaysia membuat pengguna di Indonesia yang baru menerapkan kewajiban registrasi SIM card sempat was-was.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menjamin, hal serupa tidak akan terjadi di Indonesia. Kominfo bahkan mengklaim insiden di negara tetangga kita ini tidak akan berpengaruh terhadap registrasi SIM card di Indonesia.

"Nggak ada pengaruhnya. Ini yang daftar naik terus, malahan setelah 31 Oktober naik terus. Tidak ada," ujar Dirjen Penyelenggara dan Informatika (PPI) Kementerian Kominfo Ahmad M. Ramli di Jakarta, Rabu (8/11/2017).

Selama sepekan sejak diberlakukannya kewajiban registrasi SIM card prabayar, tepatnya pada 31 Oktober 2017, Kominfo mencatat sudah ada 46,5 juta nomor seluler melakukan registrasi yang divalidasi dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan nomor Kartu Keluarga (KK). Angka 46,5 juta itu tercatat sampai pukul 12.30 WIB, kemarin.

Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) I Ketut Prihadi juga turut menanggapi perihal kasus bocornya informasi pelanggan seluler di Negeri Jiran. Menurutnya, saat ini dukungan regulasi dan juga teknis dalam proses registrasi di Tanah Air dinilai sudah kuat.

Dalam hal regulasi, Ketut mengatakan Indonesia sudah memiliki dasar hukum seperti keberadaan Undang-Undang Telekomunikasi dan juga Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronikk (ITE). Selain itu juga, ada Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri yang terkait terjaminnya keamanan data pribadi.

"Secara regulasi, sudah terjamin bahwa apabila ada kebocoran informasi ada sanksinya, bahkan kena pidana. Dari sisi teknis, operator seluler punya SOP sendiri-sendiri, misalnya bisa melakukan apa dan apa yang tidak boleh dilakukan. Operator juga diikat dengan ISO 27001 adalah sistem informasi untuk keamanan data, itu untuk mendapatkannya sangat berat," tuturnya.

"Jadi, secara regulasi dan teknisnya memang sudah terjamin. Soal nanti kalau ada oknum yang melakukan (kebocoran), itu soal lain," kata Ketut manambahkan.

Sebelumnya diberitakan, pengguna layanan seluler Malaysia diresahkan dengan dugaan kebocoran data informasi pelanggan seluler. Kebocoran data mencakup informasi seperti daftar nomor telepon seluler, nomor kartu identitas, alamat rumah, serta data 46,2 juta SIM card konsumen dari sedikitnya 12 operator di Malaysia.

Data yang dimaksud salah satunya mencakup informasi mengenai rekaman medis milik 80.000 orang dari beberapa lembaga, seperti Malaysian Medical Council, Malaysian Medical Association, dan Malaysian Dental Association.

Malaysian Communication and Multimedia Commission (MCMC) tengah melakukan kerja sama dengan polisi untuk mengusut kasus tersebut sebagaimana disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Multimedia Malaysia, Salleh Said Keruak.

"Kami telah mengidentifikasi beberapa sumber yang berpotensi terkait terhadap kebocoran tersebut, dan kami berusaha untuk menyelesaikan penyelidikan secepatnya," ujarnya. (rns/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed