Rabu, 10 Mei 2017 08:04 WIB

Menkominfo Pastikan Permen Lelang Frekuensi Ditandatangani Akhir Mei

Adi Fida Rahman - detikInet
Foto: agus/detikINET Foto: agus/detikINET
Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara memastikan Peraturan Menteri terkait lelang frekuensi 2,1 GHz dan 2,3 GHz akan ditandatangani akhir Mei ini.

"Bulan ini Insya Allah saya tanda tangan peraturan menterinya," kata Rudiantara saat ditemui usai acara penandatanganan kerjasama Go-Jek dengan Bank BNI Syariah, BTN dan Permata Bank Syariah dalam program Swadaya di Jakarta, Selasa (9/5/2013).

Ia pun memastikan proses lelang 2,1 GHz dan 2,3 GHz akan dilaksanakan berbarengan. Pria yang kerap disapa Chief RA menjanjikan pekan depan dia akan memaparkan gambaranya, terutama soal permasalahan lelang.

"Bukan frekuensinya mau dilelang bareng atau tidak. Permasalahannya di kita itu apa. Tadinya yang kita lihat 5 kota, sekarang di 10 kota. Kita perluas di kota-kota mana saja terjadi congestion," jelasnya.

"Kita akan lihat operator mana saja yang punya permasalahan karena kan kita juga harus transparan kepada masyarakat bahwa, eh operator ini di kota ini conges lho. Masyarakat harus tahu. Nah untuk menyelesaikannya, nanti kita tambahkan frekuensi sehingga layanannya membaik gitu.," tambah Chief RA.

Menkominfo juga menegaskan lelang frekuensi ini tidak akan membuka kesempatan lahirnya operator baru. Sebab pemerintah mendorong konsolidasi bukan untuk membuat operator baru.

"Kalo operator baru, sekarang frekuensinya baru, itu 4-5 tahun baru ada dia. Kita justru ingin meningkatkan skala ekonomi dengan konsolidasi. Kalau misalkan terjadi konsolidasi, skala ekonomi meningkat kan lebih efisien, unit cost-nya turun. Nah kalo unit costnya turun, efisiensi ini yang saya ingin di-fast through kepada masyarakat," jelas pria berkacamata itu.

Terkait isu operator telekomunikasi Vietnam ingin masuk Indonesia, Menkominfo tidak mempermasalahkannya. Tapi mereka tidak bisa menjadi operator baru, harus bergabung dengan operator yang sudah ada.

"Kita ngga buka peluang itu (operator baru). Karena nggak akan selesai-selesai membangun industri dengan ekosistem yang sustainable dan efisien karena skala ekonominya nggak ada," ungkapnya.

"Ini kalau menurut saya nih, feeling-feelingan aja, belum ada itung2an ilmiahnya. Saya itu idealnya 2019 itu (operator) tinggal tiga maksimal empat lah. Ya bagaimana menjadi tiga atau empat ya terserah industri ini kan bisnis. Tapi saya akan dorong yang namanya konsolidasi. Karena kalau itu terjadi yang diuntungkan itu semua, ya operator, masyarakat iya," pungkas Rudiantara. (afr/afr)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed