Senin, 20 Jun 2016 10:23 WIB

Peluncuran Satelit BRI

Tugas BRI: Buktikan Diri Bank Piawai Kelola Satelit

Ardhi Suryadhi - detikInet
Foto: Ardan Adhi Chandra Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Status BRI yang berasal dari sektor perbankan harus diakui membuat orang bertanya-tanya, apakah bank pelat merah itu mampu mengelola satelit sendiri?

Nah, di sinilah BRI harus membuktikan diri sekaligus menegaskan bahwa pengelolaan satelit tak cuma menjadi menopoli industri telekomunikasi.

Pengamat telekomunikasi Heru Sutadai menilai, sekarang ini sudah tidak ada batasan yang jelas tentang arena bermain industri telekomunikasi dan perbankan.

"Industri telekomunikasi masuk ke sektor keuangan, perbankan juga bisa masuk ke telekomunikasi. Jadi sekarang ini memang tidak ada batasan yang jelas yang tidak boleh dilanggar masing-masing sektor bisnis karena semua cair," ungkapnya saat berbincang dengan detikINET.

"Hanya memang perlu upaya ekstra bagi BRI ketika harus mengoperasionalkan satelit sendiri. Menambah alokasi biaya operasional, sumber daya manusia, tempat dan lainnya," lanjut mantan anggota Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) itu.

Terlebih, satelit bukanlah 'arena bermain' utama BRI ataupun industri perbankan. Jadi banyak pihak pun menanti usaha ekstra serta pembuktian diri BRI terkait pengelolaan satelit ini.

"Makanya mereka (BRI-red.) kan kemudian merekrut tim baru untuk mengurus satelit," lanjut Heru.

"Kalau saya melihat di awal ya mereka murni menggunakan satelit untuk keperluan mereka sendiri, dan mungkin ada transponder yang dialokasikan untuk kepentingan negara, tapi tidak tahu ya ke depan. Ini kan seperti PGN yang awalnya punya serat optik untuk Scada tapi kemudian disewakan dan bikin anak usaha Pegaskom," paparnya kemudian.
Para Petinggi BRI saat peluncuran BRIsat.

Satelit BRIsat mengisi filing orbit satelit 150.5 BT dan akan menjangkau wilayah Indonesia, ASEAN, Asia Timur termasuk sebagian China, Laut Pasifik termasuk Hawaii dan Australia Barat.

Hak penggunaan slot orbit tersebut sebelumnya dipegang oleh Indosat. Namun setelah Indosat lama tidak ada kejelasan soal pengisian satelit ini, pemerintah khawatir jika tidak segera diputuskan slot orbit tersebut bisa hilang dan akan dinilai merugikan kepentingan negara.

Di saat yang sama, BRI butuh transponder dan punya modal cukup untuk meluncurkan satelit. Sehingga akhirnya BRI yang ditunjuk mengelola slot orbit yang berada di atas langit Papua tersebut.

Kini, setelah perencanaan selama tiga tahun, satelit BRI akhirnya mengangkasa dibawa roket Ariane 5 buatan Arianespace pada Sabtu, 18 Juni 2016 pukul 18.38 waktu Kourou, Guyana, Amerika Selatan.

Perlu waktu 56 menit bagi roket sampai di angkasa sejak diluncurkan. Selanjutnya, butuh 10 hari lagi agar satelit itu mencapai orbit di 150,5 bujur timur.

Setelah itu, BRIsat akan menjalani uji coba pengoperasian. Proses ini membutuhkan waktu paling lama 60 hari setelah peluncuran. Umur pemakaian satelit ini mencapai 15 tahun lebih. (ash/fyk)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed