Rupanya, komentar tersebut juga sampai ke telinga Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini. Namun dengan tegas Dian memastikan bahwa Axis belum habis!
Axis jadi salah satu amunisi XL saat menjalankan proses transformasi di 2015. Bahkan brand awareness Axis diklaim melonjak 61% sampai akhir tahun laiu. Di tahun 2016 pun Axis masih jadi andalan XL untuk mengusik kompetitor yang menguasai pasar di suatu kota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dian menjelaskan, XL sendiri membagi target pasar ke dalam tiga kategori. Yaitu, XL sebagai penguasa area, contender (penantang) atau beda tipis dengan market leader, dan terakhir sebagai attacker (penyerang).
"Nah, Axis ini kan sifatnya attacker. Jadi kalau Axis dipaksa masuk di wilayah XL yang tampil sebagai penguasa pasar (seperti di Lombok, Bangka Belitung dan Madura), maka nanti Axis akan melawan XL," paparnya.
Di kota-kota pulau Jawa, lanjut Dian, mayoritas pangsa pasarnya tidak berbeda jauh di antara market leader dan yang ada di bawahnya. Sehingga di kota-kota ini, Axis kemungkinan tak akan terlalu agresif.
Namun lain halnya jika di kota-kota dimana Axis bisa diposisikan sebagai attacker, maka di sini ekspansi brand yang identik bertarif hemat itu bakal jor-joran untuk menggoyang dominasi penguasa pasar.
"Ada juga beberapa kota di Jawa Tengah atau Jawa Barat yang seperti itu. Seperti Sukabumi itu kotanya Axis. ada juga yang lain. Jadi Axis itu dimana kotanya sebagai attacker," jelas Dian.
Kontribusi Axis ke bisnis XL secara keseluruhan sendiri masih belum tinggi, baru di kisaran 10%-15% yang diukur dari sisi revenue dan subscriber sampai akhir tahun 2015 kemarin.
Sementara untuk belanja modal (capital expenditure/capex) Rp 7 triliun yang disiapkan XL selama tahun 2016 juga termasuk untuk mendongkrak layanan Axis.
"Kita gak bedakan secara spesifik (berapa masing-masing capex buat XL dan Axis). Yang pasti pengembangan 2G sudah tak ada lagi. Di 2016 kita akan invest di 3G 40% dan 4G 60%. Dan Axis masih belum akan 4G di 2016," Dian menandaskan.
(ash/rou)