BERITA TERBARU
Jumat, 12 Feb 2016 07:35 WIB

Blokir Netflix, Telkom: Kami Tak Takut OTT

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: Telkom Foto: Telkom
FOKUS BERITA Telkom Blokir Netflix
Jakarta - Kasus pemblokiran streaming Netflix memang sempat bikin heboh. Namun Telkom tak memandang pemain Over The Top (OTT) ini sebagai sebuah ancaman. Mereka mengaku sudah menyiapkan sejumlah jurus untuk menghadapinya.

"Kami tak melihat OTT sebagai ancaman, tetapi peluang baru yang harus digarap. Salah besar kalau ada yang anggap Telkom takut dengan OTT. Kami itu hanya mau fair in running business," tegas Direktur Konsumer Telkom Dian Rachmawan, Jumat (12/2/2016).

Diakuinya, fenomena yang terjadi sekarang kehadiran OTT menggerus potensi pendapatan operator telekomunikasi akan semakin intens.

"Namun, seharusnya telko dengan mengandalkan keunggulan infrastruktur, sumber daya manusia dan finansial yang masih dimilikinya mempunyai peluang untuk mengambil peluang yang sama di bisnis OTT," katanya.

Menurutnya, fenomena OTT yang menjalankan layanan dimana sebagian besar gratis dengan menumpang pipa bandwidth milik operator, disikapi berbeda-beda oleh penyedia jaringan.

Kata Dian, ada yang melihatnya sebagai ancaman (pesimistis), beberapa menganggap sebagai peluang (optimistis) dan sebagian besar pasrah (realistis) melihat serbuan OTT asing.

"Kalau Telkom termasuk yang optimistis dan melawan balik serangan yang datang. Kita sudah ada strategi menghadapi fenomena ini jauh sebelum ramai-ramai soal OTT sekarang," tegasnya.

Diungkapkannya, ada empat area OTT yang bersinggungan denga Telco. Pertama, OTT Voice dan OTT Messaging/Social Media seperti Skype, whatsapp, LINE, Viber, KakaoTalk, GoogleTalk, Wechat, dan Telegram. Jenis OTT ini  sudah lama menggerus pendapatan  suara dan sms operator.

Sedangkan dua OTT berikutnya yaitu OTT Content/Video dan OTT Cloud Computing diyakini akan menjadi OTT dengan pertumbuhan tertinggi dalam waktu dekat.

OTT adalah pemain yang identik sebagai pengisi pipa data milik operator. Para pemain OTT ini dianggap sebagai bahaya laten bagi para operator karena tidak mengeluarkan investasi besar, tetapi mengeruk keuntungan di atas jaringan milik operator.

Seiring perkembangan, OTT digolongkan berbasis kepada aplikasi, konten, atau jasa. Golongan pelaku usaha  yang masuk OTT diantaranya Facebook, Twitter, atau Google.

OTT menjadi booming pada suatu negara ketika memiliki penetrasi broadband coverage yang luas dengan akses kecepatan yang memadai sekurang-kurangnya 10 Mbps. Seperti diketahui satu tahun terakhir ini Indonesia khususnya Telkom menggelar secara masif pembangunan broadband melalui Indihome Fiber dan 4G mobile.

"Kami sedang bertransformasi untuk menangkap peluang bisnis baru tersebut. Pada saatnya nanti, Telkom tidak akan lagi disebut telko, tapi Dico alias Digital Company," katanya.

Dikatakannya, strategi Telkom dalam menghadapi OTT pada 4 area pertarungan itu adalah di layanan suara mempertahankan jasa voice existing dan menawarkan kualitas yang lebih baik (cristal clear voice) untuk dapat menarik minat pengguna.

Di media sosial melakukan manage retreat. Di video/content menawarkan platform internet TV, dan mengajak konten yang haus bandwidth menjadi salah satu konten yang disalurkan melalui platform internet TV milik Telkom

Sedangkan di Cloud/IoT/M2M  menawarkan platform cloud computing dengan mengoptimalkan infrastruktur milik Telkom. Misalnya, penggunaan data center atau solusi dari TelkomSigma.

Kedaulatan

Lebih lanjut Dian menjelaskan, salah satu yang harus dilihat dalam hubungan antara operator dengan OTT adalah masalah kedaulatan baik itu di sisi pengelolan jaringan hingga soal kepatuhan regulasi di sebuah negara.

"Kami blokir Netflix kemarin itu karena sepertinya mereka tidak memahami Indonesia dengan benar. Arogansi dan sikap meremehkan menjadi bumerang bagi kelangsungan bisnis mereka di Indonesia. Sangat naif mereka bermitra dengan telko lokal ketika masuk negara lain, namun  datang tanpa melihat kami di Indonesia" tegas Dian.

Masih menurutnya, pemain global OTT konten/video khususnya untuk layanan video berbayar, sangat membutuhkan kerjasama bisnis dengan operator lokal terutama dalam mekanisme tagihan ke pelanggan.

Soalnya, populasi pemilik kartu kredit dan penggunaan moda kartu kredit untuk pembelanjaan Online di Indonesia masih relatif sangat kecil. Disamping itu pemain OTT membutuhkan kerjasama penempatan konten di platform Content Delivery Network (CDN) milik operator lokal untuk kualitas layanan dan pengaturan censorship content yang tidak diperkenankan.

"Beberapa pemain OTT konten/video sedang melakukan negosiasi final dengan kami, mereka malah lebih layak dijual dan diterima pasar ketimbang Netflix. Melalui moda Tripleplay, video OTT bisa dinikmati dengan kualitas prima, harga terjangkau dan tanpa memakan bandwidth internet pelanggan," kata Dian.

Diharapkannya, semua pihak bisa melihat lebih jernih fenomena OTT dengan  mempunyai kesatuan pandangan bahwa negara dan bangsa harus berdaulat atas pendayagunaan internet untuk kepentingan bangsa yang meliputi seluruh aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan.

"Harap diketahui, sebagian besar pemain OTT bermarkas di Amerika, kita tentunya tidak bisa meniru secara ekstrim seperti Tiongkok yang tidak mengizinkan Facebook, Google, Amazon, PayPal dan mengganti dengan QQ, Baidu, Alibaba, Alipay, namun paling tidak ada pendekatan jalan tengah yang juga memberdayakan pemain-pemain OTT lokal untuk kedaulatan NKRI," tutupnya.

Sekadar diketahui, Telkom menjadi perbincangan tak hanya di Indonesia, tetapi di media global pasca keberaniannya memblokir Netflix mulai 27 Januari 2016 di jaringannya karena dianggap tak memenuhi regulasi di Indonesia.

Pasar saham di Amerika Serikat merespons dengan sempat turunnya saham Netflix. Sementara di Indonesia saham Telkom hingga 5 Februari 2016 menunjukkan penguatan dengan bermain di Rp 3.500 per lembar. (rou/rou)
FOKUS BERITA Telkom Blokir Netflix
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed