Sejak beroperasi 1995 silam, seluler telah menjelma menjadi industri padat modal dengan keuntungan berlimpah. Bayangkan saja, setiap tahunnya ada sekitar USD 100 juta uang yang berputar di industri ini.
Setelah berkiprah 20 tahun lamanya, industri seluler pun akhirnya melambat. Pasalnya, sudah ada 300 juta nomor SIM card yang beredar. Dan itu artinya, sudah melampaui jumlah populasi penduduk 250 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau saya lihat industri secara keluruhan,β dengan 160-170 juta unique accountβ, kita tak mungkin lagi satu tahun dapat 50 juta (pelanggan baru)," ujarnya di sela Hackathon Merdeka 2.0 di Kaffeine, SCBD, Jakarta, Senin (19/10/2015).
Dari total 250 juta penduduk, angka usia produktif yang telah memiliki kartu identitas saja hanya sekitar 180 jutaan. Itu artinya, hanya sedikit pasar yang tersisa untuk industri seluler menambah pelanggan baru.
"Apalagi kalau kita eliminir usia yang di bawah lima tahun dan di atas 70 tahun, itu mereka kan nggak pegang ponsel. Jadi pasar kita memang sudah saturated," lanjut menteri yang akrab disapa Chief RA.
Dengan pasar yang semakin sempit, operator pun mau tak mau harus pintar-pintar mencari celah peluang bisnis agar tak terpuruk. Operator harus pintar membaca keinginan pasar.
Agar bisa lebih segmented dan terarah dalam melayani pasar, operator mau tak mau harus serius dalam mendata pelanggan. Itulah salah satu alasan kenapa registrasi prabayar menjadi keharusan yang tak bisa dielakkan.
"Saya berharap semua registrasinya di tempat. Jangan sampai beli kartunya di Jakarta, tapi baru diaktifkan di luar Jakarta. Saya ingin registrasi prabayar kali ini benar-benar diperhatikan," tegas menteri.
Registrasi prabayar tahap kedua rencananya akan digeber mulai 15 Desember 2015 nanti. Agar tak lagi gagal seperti program tahap awal, sejumlah perbaikan proses βregistrasi pun tengah didiskusikan oleh Kementerian Kominfo dan seluruh operator telekomunikasi.
(rou/asj)