Sabtu, 15 Agu 2015 10:17 WIB

Cerita Warga Perbatasan 'Dijajah' Operator Asing

Adi Fida Rachman - detikInet
(adi/detikINET) (adi/detikINET)
Sebatik -

Isu daerah perbatasan selalu terkait dengan penyeludupan barang dan pencurian hasil laut. Padahal masalah jaringan telekomunikasi kerap pula meresahkan masyarakat yang berada di wilayah tapal batas.

Bagaimana tidak, mereka dibuat tidak nyaman dalam berkomunikasi lewat ponselnya. Dengan berada di daerah perbatasan, warga seringkali malah tersambung dengan sinyal operator negara luar sehingga terkena roaming internasional. Dampaknya tentu saja membuat pulsa cepat terkuras.

Hal tersebut pernah dirasakan Kaharuddin, warga Desa Tanjung Karang, Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Berada tak jauh dari Malaysia membuatnya kerap terkena roaming internasional.

Di daerah tempat tinggalnya kerap jadi serbuan sinyal operator Malaysia, mulai dari Maxis, Celcom dan Digi. Kaharuddin sendiri menggunakan Telkomsel. Begitu mengalami blankspot, seketika ponselnya langsung dijajah salah satu operator Negeri Jiran tersebut tanpa disadarinya.

Ketika pulsa yang dimilikinya tersedot banyak, barulah pria yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil ini menyadarinya. "Baru isi pula Rp 50 ribu, baru telpon sebentar sudah habis. Ternyata kena roaming operator Malaysia," ujarnya saat berbincang dengan detikINET.

Untungnya, masalah yang dialami Khairuddin dan sebagain besar warga Sebatik tidak akan berlangsung lebih lama lagi. Pasalnya Telkomsel telah melakukan sejumlah upaya untuk menghalau sinyal operator Malaysia masuk ke pulau yang memiliki luas 247,5 km2 ini.

Operator plat merah ini telah menambah Base Transceiver Station (BTS) di Sebatik. Hingga Agustus ini mereka sudah memiliki 36 BTS, terdiri dari GSM (2G) 13 BTS, DCS (2G) 7 BTS dan 3G 16 BTS. Beberapa BTS bahkan ditanam dekat garis batas Indonesia - Malaysia.

Imbas penambahan BTS ini pun sudah langsung dirasakan Khairuddin. Dikatakannya, ia sudah lama tak lagi terkena roaming internasional. Bahkan dirinya tidak perlu lagi mengangkat-angkat ke atas ponselnya untuk mencari sinyal. "Sinyalnya sudah kuat. Tak pernah lagi dapat sinyal operator Malaysia," ungkapnya.

Selain itu, biaya komunikasi dirasa olehnya semakin hemat. Pasalnya ia tidak perlu bayar mahal ketika menelpon keluarganya yang tinggal di Malaysia. Karena kuatnya sinyal, keluarganya pun bisa menggunakan kartu Telkomsel kala menerima telpon Khairuddin.

"Saya kirimkan kartu perdana ke sana. Jadi tinggal pakai paket Talk Mania aja, cuma Rp 2.000 telpon sampai kuping panas," katanya.

Tentu saja apa yang telah dirasakan Khairuddin dan warga Sebatik dapat segera berlanjut ke daerah perbatasan lainnya. Supaya di usia Indonesia yang menginjak 70 tahun ini, masyarakat yang hidup di teras depan NKRI benar-benar merdeka dari jajahan sinyal negara tetangga.

(yud/yud)