Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar bisa berdampak ke mana-mana. Mulai dari keuangan perusahaan sampai ke daya beli masyarakat. Hal ini pula yang dikhawatirkan terjadi di industri telekomunikasi.
Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengakui jika kondisi makro ekonomi Indonesia sedang sulit. Hal ini ditandai dengan performa keuangan rata-rata perusahaan yang cenderung turun di Q1 2015.
"Harga saham juga sempat turun. Tapi Alhamdulillah, Telkom -- selaku induk usaha Telkomsel -- sudah rebound dan kembali ke jalan yang benar," kata Ririek di acara buka puasa bersama media di kantor Telkomsel, Rabu (1/7/2015) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nilai tukar rupiah terhadap dolar yang kini lebih akrab berada di atas Rp 13.000 pastinya menjadi momok bagi perusahaan Indonesia. Apalagi dolar kerap dijadikan acuan bagi perusahaan-perusahaan untuk mengembangkan investasinya atau mencari pinjaman (utang).
Namun bagi Telkomsel, Ririek menegaskan jika operator yang identik dengan warna merah itu tak terlalu was-was. Sebab dampaknya masih dalam taraf bisa dikendalikan.
"(Pasti) ada dampak rupiah melemah, tapi masih manageable, karena kita tak punya exposure dolar yang terlalu besar. Ada di capex (capital expenditure) tapi relatif kecil, kita juga gak punya utang yang besar di dolar jadi masih manageable. Untuk itu kita gak melakukan hedging," jelasnya.
Promo Seeker
Sementara terkait daya beli pelanggan, Direktur Sales Telkomsel Mas'ud Khamid masih menunjukkan optimisme tinggi dari 141 juta pelanggan yang dimiliki Telkomsel yang tercatat hingga akhir Q1 2015 kemarin.
Jika dibelah lebih detail, dari 141 juta pelanggan, sebanyak 108 juta di antaranya mengisi pulsa (recharge) lebih dari tiga kali dalam sebulan.
"Dimana rata-rata 3-4 kali recharge, paling banyak isi ulang dengan pulsa Rp 10-20 ribu sebesar 40-50%," kata Mas'ud.
Sementara sebagian sisanya masuk kategori promo seeker alias pelanggan yang aktif ketika ada promo yang memberikan benefit besar baginya. Promo seeker ini rata-rata hanya satu-dua kali isi pulsa dalam sebulan.
"Gak terlalu peduli nomor tapi incar benefit sebanyak 25-30%," Mas'ud menandaskan.
(ash/fyk)