Ibarat makanan, bisa dibilang kondisi industri telekomunikasi kini seperti gado-gado. Berbagai bumbu dan sayur-mayur dimasukkan ke dalamnya hingga tersaji bermacam rasa.
Bagi Alexander Rusli, CEO dan Presiden Direktur Indosat, perspektif 'gado-gado' itu merupakan campuran antara asa optimisme dan perasaan was-was melihat industri telekomunikasi di tahun 2015.
Perasaan was-was datang setelah melihat indikasi ekonomi makro yang terkait dengan konsumer di Indonesia. "Ini (kondisi makro-red.) yang lagi gak bagus. Lihat saja demand untuk kendaraan turun 20%, komoditi yang lain semuanya juga turun," kata Alex, saat berkunjung ke markas detikcom.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan kondisi seperti itu, (bagi operator) apakah is it going to be hit first or is it going to be hit last? Ini tak bisa diperkirakan," kata eksekutif yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) ini.
Indosat sendiri sejatinya memiliki harapan tinggi menyambut persaingan layanan seluler di tahun 2015. Terlebih, modernisasi jaringan anak usaha Ooredoo itu sudah mulai rampung.
"Kita sudah start modernisasi jaringan sejak dua tahun lalu dan sekarang sudah mulai coming in. Tahun ini perbaikan jaringan tahap terakhir, setelah perbaikan jaringan mendalam ke masing-masing tempat terus ada LTE," papar Alex.
"Jadi dari sudut pandang konsumen kita ajak untuk lebih konsumtif lagi tapi dari sudut pandang perusahaan ini akan menjadi peluang yang lebih besar lagi," imbuhnya.
Dengan adanya asa optimisme dan perasaan was-was secara bersamaan, CEO Indosat pun tak bisa memprediksi arah masa depan industri. Yang bisa dilakukan adalah berusaha sebaik mungkin dalam menyediakan layanan kepada pelanggan sembari mempersiapkan benih bisnis baru bagi Indosat.
"Belum tahu kita, karena kita masuk ke era data dimana ketergantungan orang akan data sudah mulai tinggi. Dan orang yang biasa pakai data dan tiba-tiba berhenti kayanya susah juga. jadi memang seperti yang tadi saya, katakan optimistis tapi was-was," kata Alex.
"A lot of opportunity, pada saat yang sama macro situation membuat was-was. Dollar exchange tak memberi dampak langsung, yang sekarang ditakutkan adalah imbas terhadap buying power (daya beli konsumen)," tandasnya. (ash/rou)