Operator seluler XL mengaku ikut terpukul dengan dihentikannya layanan SMS Premium. Pendapatannya sempat anjlok 61% dan masih belum pulih. Untungnya, ada layanan data yang bisa diandalkan dan tumbuh signifikan 68%.
Seperti diketahui, sejak Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) merilis Surat Edaran No. 117/2011, pertengahan Oktober 2011 lalu -- yang mengimbau seluruh operator untuk unreg massal deaktivasi SMS premium -- dampaknya hingga kini masih dirasa cukup besar oleh industri konten.
Bahkan untuk operator seperti XL Axiata, pendapatan dari SMS premium yang masuk segmen value added services (VAS) itu belum juga pulih meski kejadiannya telah berlalu 10 bulan lamanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untungnya, pendapatan dari pengiriman outgoing SMS reguler tumbuh dari 114 miliar SMS menjadi 148 miliar SMS, naik 30% dari revenue Rp 1,925 triliun menjadi Rp 2,310 triliun.
Penurunan kontribusi SMS premium juga berbanding terbalik dengan pertumbuhan data yang tumbuh pesat. Dalam setahun terakhir hingga akhir semester pertama 2012, revenue layanan data XL tumbuh 68%. Dari Rp 940 miliar menjadi Rp 1,577 triliun.
Pertumbuhan dikontribusikan dari peningkatan jumlah pelanggan data yang menjadi 26,5 juta dari total 45,9 juta dengan kenaikan trafik 192% dari 3,7 petabtyte menjadi 10,7 petabyte.
Meski Adlan menilai frekuensi 3G selebar 10 MHz yang ditempati XL masih sanggup untuk melayani pelanggan data, namun kondisi itu diyakini tak akan berlangsung lama.
"Itu sebabnya kami butuh tambahan blok 3G. Kami optimistis dari blok 11 dan 12 yang tersedia, kami bisa mendapatkan salah satunya dalam seleksi beauty contest nanti jika melihat kesiapan infrastruktur dan kebutuhan melayani pelanggan dari segi spektrum ratio to subscriber," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Adlan juga menjelaskan alasan berakhirnya kerja sama roaming nasional XL dengan Axis Telekom Indonesia. Selain karena membutuhkan ruang yang lebih besar untuk frekuensi, kerja sama itu juga tak terlalu menguntungkan buat XL.
"Roaming dengan Axis grafiknya sudah turun juga. Bisa kami bilang pendapatan dari roaming nasional tidak banyak," ungkap Adlan.
Selain itu, XL juga belum berniat untuk kembali menawarkan 7.000 menaranya yang sempat ingin dijual beberapa waktu lalu. "Kalau ada good offer, mungkin saja kami jual menara kami. Tergantung banyak faktor, termasuk fluktuasi dollar AS. Kami juga masih butuh menara ini untuk ekspansi 3G," tandasnya.
(rou/eno)