Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Pantau 4G LTE, Qualcomm Wait and See

Pantau 4G LTE, Qualcomm Wait and See


Achmad Rouzni Noor II - detikInet

(Ist)
Jakarta - Perkembangan teknologi Long Term Evolution (LTE) untuk layanan seluler generasi keempat (4G) juga mendapat perhatian serius dari Qualcomm. Vendor chipset mobile ini tengah wait and see untuk menangkap peluang.

Benhard Siagian, Senior Director and Country Manager Qualcomm Indonesia, menilai Indonesia harus terlebih dulu membangun ekosistem LTE. Sebab menurutnya, ekosistem itu yang nantinya akan memberikan masukan bagaimana LTE akan dikembangkan.

"Dengan begitu ekosistem bisa kasih advice untuk mobile carrier juga. Kalau tidak ada network LTE, kenapa harus suply device LTE," ujarnya di sela buka puasa bersama media di Hotel Interkontinental Mid Plaza, Jakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk penetapan frekuensi, misalnya. Hingga saat ini, pemerintah melalui Kementerian Kominfo dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia belum bisa menentukan di frekuensi apa LTE akan beroperasi nanti.

Dari frekuensi yang ada, sejumlah opsi sebenarnya bisa dipertimbangkan, seperti di 700 MHz, 900 MHz, 1.800 MHz, 2,1 GHz, 2,3 GHz, dan seterusnya. Namun tidak semua opsi itu mutlak lowong untuk langsung digunakan.

Di 700 MHz misalnya. Frekuensi ini masih digunakan untuk siaran TV analog free to air. Pemerintah sendiri masih mengupayakan agar frekuensi ini available untuk LTE dengan mempercepat migrasi TV analog ke digital melalui tender multipleksing.

Namun proses perpindahannya diyakini akan memakan waktu yang cukup lama hingga semua masyarakat pemilik TV analog beralih ke TV digital. Sebab, program migrasi ini ditargetkan baru bisa tuntas paling lambat di 2018 nanti.

Pemerintah sendiri tampaknya memang memproyeksikan 700 MHz ini sebagai frekuensi untuk LTE. Sebab, selain frekuensi ini juga telah banyak digunakan di negara lain -- di Amerika Serikat, misalnya -- setelah migrasi TV digital nanti akan ada pita selebar 140 MHz yang tersedia.

Jika satu operator membutuhkan sedikitnya 20 MHz, maka spektrum yang available di 700 MHz ini bisa digunakan oleh tujuh operator LTE nantinya.

Sementara opsi lainnya adalah di 2,3 GHz. Dari total lebar spektrum 90 MHz, baru 30 MHz yang telah dialokasikan (untuk broadband wireless access Wimax). Masih tersisa 60 MHz. Dan itu bisa digunakan kapan saja. Sementara opsi lainnya menggunakan refarming atau re-use frekuensi yang sudah ada.

Qualcomm sendiri mengaku tak masalah LTE beroperasi di frekuensi mana. Sebab, menurut Benhard, chipset Snapdragon S4 yang diproduksi Qualcomm sudah siap mendukung LTE.

"S4 fokusnya memang untuk device LTE, dan kita punya pasar yang terbesar di dunia," ujarnya.

Produsen chipset dunia untuk ponsel ini telah memperkenalkan serial prosesor Snapdragon generasi keempat. Yakni prosesor berkekuatan hingga 2.5GHz dengan varian single core, dual core, dan quad core.

Benhard sebelumnya pernah mengatakan bahwa chipset generasi keempat tersebut akan hadir di 120 perangkat dengan aneka merek yang menurut rencana mulai beredar pada akhir tahun 2012 dan awal 2013.

Ia menjelaskan, chipset Snapdragon generasi baru tersebut lebih cepat 80%, lebih responsif hingga 70 fps, dan kinerja Java script 70% lebih baik.

Fitur yang diberikan antara lain mampu merekam video 1080p HD, bermain game 3D, berbagi konten dengan kecepatan cahaya, dan berganti aplikasi tanpa jeda.

Hingga kini, Qualcomm telah berhasil mengapalkan lebih dari 7 miliar chipset yang tersebar melalui berbagai partner prinsipal produk ponsel, smartphone, tablet, laptop, netbook, dan perangkat mobile device lainnya.

(rou/rns)





Hide Ads