Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Soal SMS Premium, Indonesia Belajar dari Malaysia

Soal SMS Premium, Indonesia Belajar dari Malaysia


Susetyo Dwi Prihadi - detikInet

Ilustrasi (hasan/detikfoto)
Jakarta - Indonesia bukan satu-satunya yang tersandung masalah konten SMS premium. Negara lain di Asia seperti Malaysia, India dan Filipina ternyata juga pernah menghadapi kasus serupa.

Belajar dari pengalaman itu, Indosat pernah mengundang MEF -- organisasi content provider (CP) di seluruh dunia -- agar bisa sharing ilmu ke pelaku Content Provider (CP) di Tanah Air. Kebetulan perwakilan MEF yang datang saat itu salah satunya berasal dari Malaysia.

"Malaysia juga ternyata pernah menghadapi seperti kita. Tapi tidak seheboh di Indonesia, yang sampai di ranah politik. Setelah regulasi dibenahi, industri konten di sana bisa pulih," ujar Division Head Gaming & Content Indosat Andri Fisaterdi, di gedung Indosat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indosat sendiri mengundang MEF sebagai bagian dari gathering untuk memberikan edukasi ke CP dan konsumen. Seperti diketahui, sejak Oktober 2011 industri SMS premium mengalami kolaps dan belum pulih sepenuhnya hingga saat ini.

Ditambahkan Andri, beberapa negara yang mengalami kasus serupa bisa memulihkan ke kondisi semula hingga dua tahun atau malah hanya yang bisa sembuh 50% saja.

"Belajar dari MEF baik dari operator ataupun CP bisa mengetahui apa saja apa yang boleh atau yang tidak," tambahnya.

Khusus Indonesia, Andri sendiri optimistis jika industri ini akan sembuh dalam waktu dua tahun. Apalagi melihat industri kreatif yang harus diselamatkan.

Ditambahkan Head BlackBerry dan Mobile Device Indosat Benny Hutagalung, sebelum Oktober kelabu itu, pemasukan dari value added services (VAS) mencapai 10% dari total pendapatan operator 'kuning'.

"Tugas operator saat ini adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan strategi pemasaran yang baru," tandasnya.

(ash/ash)





Hide Ads