Demikian kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo Gatot S. Dewa Broto mengomentari rencana aksi pelemparan BlackBerry yang digaungkan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Informasi (LPPMI).
"Sangat sah dan dilindungi oleh UU yang mengatur unjuk rasa. Namun mereka juga harus melapor ke pihak berwajib. Jadi tidak boleh ada yang mengganggu," tukasnya kepada detikINET, Rabu (21/12/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kekecewaan mereka (LPPMI-red.) bisa kami pahami, cuma caranya tidak elegan. Pihak RIM dan Kedubes Kanada sering keteteran kok jika diajak debat," lanjut Gatot.
"Mereka berekspresi dengan aksi melempar BlackBerry. Hanya saja kami, Kominfo, tidak ikut-ikutan, karena itu cara mereka (LPPMI-red.). Ini kami perlu tegaskan jangan sampai ada yang ngomong jangan-jangan ini titipan Kominfo. Nggak lah ya," ia menandaskan.
Sebelumnya, lantaran kecewa dengan sikap RIM yang terkesan melecehkan regulasi di Indonesia, LPPMI merencanakan aksi pelemparan BlackBerry sebagai bentuk protes dalam waktu dekat. Tempatnya kemungkinan besar di Kedutaan Besar Kanada.
"Kita terusik bahwa dengan satu layanan BlackBerry saja kita sebagai bangsa yang besar dikerjain. Kita adalah bangsa besar, ini negeri yang besar jadi jangan main-main," kata Kamilov Sagala, Direktur Eksekutif LPPMI kepada detikINET.
Kamilov menilai aksi tersebut akan menjadi pembelajaran bagi RIM agar tidak meremehkan dan main-main dengan negara ini. Aksi lempar BlackBerry bebas diikuti oleh siapapun yang tergerak untuk memprotes RIM dan terusik rasa nasionalismenya.
"Siapapun yang merasa ditelantarkan oleh RIM silakan ikut, siapapun yang memakai BlackBerry juga kita undang. Kita tunjukkan pada RIM bahwa negeri ini punya rasa nasionalisme yang tinggi," imbuh Kamilov.
RIM sendiri masih terus tarik ulur dengan pemerintah soal berbagai janjinya yang belum terlaksana. Seperti pembangunan data center di Indonesia yang belum dilakukan oleh produsen asal Kanada tersebut.
(ash/fyk)