Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
RBT Susut, Label Terancam 'Gulung Tikar'

RBT Susut, Label Terancam 'Gulung Tikar'


- detikInet

Jakarta - Warner Musik Indonesia (WMI) mengaku rugi hingga 80% sejak dilakukannya unreg massal konten premium, termasuk ring back tone (RBT). Belum adanya kepastian berbisnis dinilai bisa bikin perusahaan label rekaman gulung tikar.

"Padahal pendapatan RBT dari label memberi kontribusi 90%," ujar Managing Director WMI Jusak Irwan Sutiono, di sela rapat dengar pendapat umum (RDPU) di Komisi I DPR RI, Jakarta, Selasa (13/12/2011).

Seperti diberitakan sebelumnya, pelanggan RBT yang dulunya sekitar 25 juta, kini tinggal tiga juta saja. Menurut Jusak yang juga merangkap Ketua Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (Asiri), kondisi ini terus menggerus pendapatan industri rekaman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jusak pun mengaku kecewa atas keputusan unreg massal SMS premium dan broadcasting. Ia khawatir, sebab ada ribuan orang yang menggantungkan hidupnya di WMI.

"Jika dulu 80%-90% penghasilan RBT untuk label dan sisanya dari penjualan kaset dan CD, sekarang 10%-20% keuntungan yang didapat dari RBT, jika keadaan terus seperti ini, dalam enam bulan, Warner harus melepas 75% artisnya. Bahkan, diperkirakan akan ada 70 label yang bangkrut," sesalnya.

WMI yang telah menggaungkan band sekelas Kotak, Alexa, dan Kangen Band, menurut Jusak, harus melakukan antisipasi penghematan hingga pengurangan artis, jika dalam tiga bulan ini kondisi ketidakpastian terus berlangsung, atau bahkan diperpanjang.

"Saya dan kawan-kawan label lainnya sangat terpukul dengan kasus ini karena layanan RBT terpaksa dihentikan dan untuk berlangganan kembali masyarakat masih banyak yang merasa khawatir. Padahal selama ini penjualan RBT tidak bermasalah," katanya.

Menurut Jusak, bila total pendapatan industri musik Indonesia untuk tahun ini diprediksi sebesar Rp 600 miliar yang di dalamnya ada penjualan CD dan kaset selain RBT, namun adanya kasus itu membuat realisasi hingga akhir tahun diprediksi hanya mencapai Rp 450 miliar. "Hal ini tentu sangat merugikan industri musik Indonesia," keluh dia.

(rou/rns)







Hide Ads