Gregory Wade, Regional Managing Director RIM mengatakan, regional network aggregator tersebut juga sudah terhubung dengan jaringan milik operator di Indonesia agar bisa menggelar layanan BlackBerry yang lebih baik.
"Infrastruktur ini bisa menghemat biaya, bandwidth dan menjaga performa dari layanan BlackBerry," tukasnya, dalam sambungan telepon kepada detikINET, Senin (12/12/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam pertemuan yang kami langsungkan dengan pihak Kominfo dan BRTI beberapa waktu lalu, ada hal-hal yang sifatnya rahasia dan tidak bisa kami ungkap," kilahnya. Padahal kabar yang santer beredar, regional network aggregator yang dimaksud Greg berlokasi di Singapura.
Namun yang pasti, ditambahkan Oliver Philgerstorfer selaku Senior Public Relation Manager RIM South East Asia, network aggregator yang sudah dibangun tersebut menunjukkan niat serius dari perusahaan asal Kanada itu dalam menggelontorkan investasinya demi mendukung produk dan layanan BlackBerry.
Pernyataan RIM di atas sekaligus untuk menepis tudingan pihak Kominfo yang diwakili oleh Kepala Pusat Informasi dan Humas Gatot S. Dewa Broto yang menyebut RIM cuma menyiapkan router di Singapura.
Pun demikian, apa yang dikatakan Gatot itu bukan tanpa dasar. Melainkan dari hasil pertemuannya dengan Jason Saunderson, Direktur Government Relations RIM pada 8 Desember lalu di Gedung Sapta Pesona, Jakarta.
"Ketika itu bilangnya sudah jalan sejak Juli 2011. Namun kita lihat efeknya, apa ada perubahan terhadap tarif dan layanan BlackBerry?" sergah Gatot.
Ya, entah siapa yang benar. Yang pasti Indonesia tak lagi kebagian dalam soal investasi, kali ini untuk urusan router atau network aggregator seperti yang dibilang RIM. Untuk kesekian kalinya, tetap negara tetangga yang lebih dipilih.
(ash/eno)