"Asset sale masih on going. Kalau ada yang mau bayar ayo. Sampai saat ini belum ada penawaran," jelas Harry usai RUPS Tahunan di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jumat (24/6/2011). Calon pembeli yang santer disebutkan selama ini -- Telkom -- lanjutnya juga belum melakukan langkah konkrit.
Menurut Harry, penjualan unit usaha StarOne secara bisnis bisa dilakukan. Namun karena melibatkan peralihan frekuensi, maka proses transaksi tidak bisa dilakukan dengan cepat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain StarOne, manajemen Indosat juga mengkaji penjualan beberapa unit menara telekomunikasi (BTS) serta properti. Untuk BTS, perseroan masih merapihkan dokumentasi, catatan serta file pendukung transaksi. Belum diketahui kapan penjualan tower dilakukan.
"Tower belum ada kesimpulan, karena kompleks dan terlalu luas. Pendapatan co-location tower tahun 2009 Rp 5 miliar, dan tahun lalu sudah meningkat menjadi Rp 270 miliar akibat utilisasi aset hingga ada performa keuangan," tegasnya.
"Properti juga, aset kita sangat banyak, gedung, gudang, semua kita kaji. Kalau tidak terpakai, ya dijual," imbuhnya.
Harry menegaskan, belanja modal Indosat tahun ini mencapai Rp 5,8-6,5 triliun. Capex digunakan untuk pengembangan usaha, khususnya seluler. Dengan gelontoran uang tersebut, perseroan percaya kinerja Indosat akan lebih baik dibanding tahun 2010, yang merosot.
"Triwulan II, kalau dari indikasi triwulan I akan ada peningkatan. Kami tidak pernah melakukan absolut laba, tapi indikasi. Dengan inisiatif-inisiatif baru, maka (kinerja) akan lebih baik," pungkasnya.
(wep/ash)