Meski menurut Dedi Suherman, Ketua Pokja Teknologi Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI), kondisi ini memang terkesan menguntungkan pelanggan, namun penyedia jaringan tetap harus waspada jika tak mau pelanggan kecewa.
"Buat pelanggan ritel dan korporat tentu menguntungkan karena masing-masing akan memberikan tarif yang kompetitif. Namun kalau kebablasan akan seperti layanan voice dimana kualitas tidak bisa dijamin," ujarnya mengingatkan, kepada detikINET di Jakarta, Kamis (16/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sementara, kebanyakan operator di dunia sudah balik lagi ke volume based karena begitu besarnya demand data dan tingginya biaya investasi," jelasnya lebih lanjut.
Ia pun menilai, dengan diakuisisinya salah satu perusahaan BWA oleh Bakrie dan masuknya raksasa telekomunikasi global AT&T, peta persaingan baru akan ramai di segmen korporat.
"Untuk Bakrie mereka lebih positioning ke network provider seperti Telkom Infratel untuk corporate segment. Sama seperti halnya AT&T," pungkas Dedi.
(rou/ash)