'Kalau kita mau sungguh-sungguh membangun bangsa, tanpa penetrasi kabel (infrastruktur-red) di seluruh Indonesia, hasilnya pun akan sia-sia,' ujar Yanuar Nugroho, seorang peneliti dari University of Manchester.
Bertempat di Goethe Haus, Kamis petang (12/5/2011), Tim Internet Sehat mengadakan konferensi pers dengan inti pemamaran hasil riset penelitian Manchester University dan HIVOS. Riset tersebut bertujuan memetakan aktivisme sipil kontemporer, dan penggunaan media sosial di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Intinya, ia menyampaikan bahwa aktivisme sipil di Indonesia (dengan berbagai contoh seperti koin prita, jalin merapi, dan berbagai gerakan dukungan di Facebook) berpotensi mengangkat isu-isu sosial di publik, dan memungkinkan terjadinya perubahan yang terjadi di masyarakat secara lebih luas.
Sayangnya beberapa elemen bangsa ini masih belum bisa memanfaatkan penetrasi internet secara merata. Berdasar data Kominfo 2010, penetrasi akses internet di Indonesia 70,05% nya masih terkonsentrasi di Jawa dan Bali.
Yanuar pun menyampaikan, jika pemerintah ingin serius membangun bangsa ini, hal yang pertama harus dilakukan adalah meratakan semua akses informasi -melalui lembaga terkait- di seluruh Indonesia.
(fw/eno)