Kepastian ini diperoleh para operator yang tergabung dalam Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) setelah menandatangani nota kesepakatan dengan PT Pertamina Persero di Gedung Wisma Mulia, Jakarta, Jumat (13/8/2010).
"Melalui kemitraan ini ketersediaan supply BBM yang sangat dibutuhkan oleh semua operator untuk menunjang kegiatan operasional sehari-hari akan terjamin," ungkap Ketua Umum ATSI, Sarwoto Atmosutarno.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam keterangannya belum disebutkan secara pasti jumlah pasokan BBM yang dijamin ketersediaannya. Namun jika dihitung berdasarkan jumlahΒ BTS yang dimiliki operator, maka bisa diperkirakan ada jutaan liter solar yang dibutuhkan untuk operasional sehari-hari.
Sebagai contoh, operator seluler XL Axiata dalam setahun bisa menghabiskan bahan bakar solar industri sebanyak 17 juta liter untuk mengoperasikan lebih dari 20 ribu unit BTS yang dimilikinya.
Menurut Direktur Network XL, Dian Siswarini, pihaknya mengeluarkan biaya Rp 11.000 per liter solar atau total Rp 120 miliar per tahun untuk keseluruhan biaya bakar BTS tersebut. Harga tersebut sudah termasuk ongkos kirim. Sementara jika dihitung dari harga solar industrinya saja berkisar Rp 7.000-Rp 8.000 per liter.
Selain XL yang melayani 32,6 juta pelanggan dengan 20 ribu BTS, Telkomsel juga melayani 88,3 juta pelanggannya dengan 34 ribu BTS. Sementara Indosat yang baru saja merevisi 1,4 juta pelanggannya menjadi 37,7 juta punya infrastruktur 18 ribu BTS.
Sedangkan operator lain yang tergabung dengan ATSI adalah Mobile-8 Telecom (4.000 BTS), Smart Telecom (3.500 BTS), Natrindo Telepon Seluler/Axis (6.000 BTS), Hutchison CP Telecom/Tri (6.000 BTS).
(rou/wsh)