"Yang sudah mulai Sitra, itupun baru di Sumatera dan Jabodetabek, yang lain
masih menunggu persoalan teknologi, papar Pelaksana tugas (Plt) Ditjen Postel Muhammad Budi Setiawan kepada detikINET disela-sela perhelatan Bali Telkom International Confrence (Batic) di Nusa Dua Bali.
Sitra Wimax merupakan merek dagang First Media untuk layanan BWA Nomadic 802.16d yang dimenangkannya dalam tender lisensi frekuensi di pita 2,3 GHz. Anak perusahaan Lippo itu memenangkan zona 1 (Sumatera Bagian Utara) dengan nilai tender Rp 7.201.000.000 dan zona 4 (Banten dan Jabodetabek) senilai Rp 121.201.000.000.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita juga menjaga TKDN siap atau tidak. Kalau misal bergerak ke 'e', industri lokal mana yang siap membackup chipnya. CPE nya inilah yang perlu dilihat," tambahnya lagi.
Terkait tender BWA ini beberapa operator dikhawatirkan main curang dengan penyediaan perangkat end usernya. Kabarnya banyak operator BWA yang mencoba
mengakali membeli perangkat lokal demi lulus ULO (Uji Laik Operasi) dengan
menggunakan perangkat luar.
"Ini sangat mengecewakan. Yang kami lakukan di Kominfo adalah standarisasi. Nah, kalau ditemukan ada yang menggunakan perangkat luar akan ada sanksi," ujar Budi menanggapi.
Dikatakan Budi, sanksi tersebut lebih condong bersifat administratif. Jika berbicara soal pencabutan, dirinya tidak terlalu yakin. "Kita mendorong. Kalau sedikit-sedikit mencabut, tidak sehat juga untuk bisnis kita ini. Kita mencoba mencari solusi dimana permasalahannya. Saya pribadi lebih suka pendekatan seperti itu," tutup Budi.
(fw/rns)