Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ahli Geologi Temukan Deposit Tanah Jarang Terbesar di Bekas Uni Soviet

Ahli Geologi Temukan Deposit Tanah Jarang Terbesar di Bekas Uni Soviet


Rachmatunnisa - detikInet

Ilustrasi tanah jarang
Foto: The Daily Galaxy
Jakarta -

Penemuan besar baru-baru ini mungkin bisa mengubah peran Kazakhstan di pasar mineral strategis. Para ahli geologi dari negara bekas Uni Soviet itu menemukan salah satu cadangan tanah jarang (rare earth) terbesar di wilayah steppe Kazakhstan tengah, khususnya di provinsi Karagandy.

Temuan ini penting bagi sektor teknologi modern dan transisi energi bersih. Situs yang dinamai 'New Kazakhstan' itu menunjukkan estimasi awal kandungan oksida tanah jarang mencapai ratusan ribu ton, termasuk cerium, lanthanum, neodymium, dan yttrium, mineral penting dalam pembuatan sistem energi terbarukan, kendaraan listrik, elektronik, serta perangkat pertahanan canggih.

Menurut informasi resmi dari Kementerian Industri dan Konstruksi Kazakhstan, pengeboran dan analisis awal yang dilakukan sejak 2022 dan dilaporkan ke pemerintah pada 2024 menunjukkan empat zona prospektif dengan perkiraan cadangan total mencapai sekitar 935.400 ton oksida tanah jarang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti dikutip dari The Daily Galaxy, beberapa model geologi bahkan memperkirakan total temuan kandungan tanah jarang di wilayah ini bisa mencapai lebih dari 20 juta ton pada kedalaman hingga 300 meter, dengan rata-rata kandungan 700 gram per ton.

Eksplorasi Awal

Namun, para ahli di industri ini mengingatkan perlunya verfikasi sebelum dengan percaya diri menyebutnya sebagai 'deposit'. Georgiy Freiman, Ketua Komite Eksekutif, Professional Association of Independent Mining Experts, menyebutkan ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum sampai pada kesimpulan tersebut.

ADVERTISEMENT

"Untuk dapat menyebutnya sebagai sebuah deposit, pertama-tama Anda harus mempelajari semua elemen di area dengan mineralisasi. Anda perlu mempelajari hidrogeologi, geomekanik, serta menilai kelayakan ekstraksi dan dalam bentuk apa mereka dapat diekstraksi," ujar Freiman.

"Anda perlu melakukan penilaian ekonomi, memperhitungkan situasi pasar dan kebutuhan industri terkait. Hanya ketika semua faktor ini dianalisis, dan model ekonomi dikembangkan, barulah itu benar-benar dapat disebut sebagai deposit. Tanpa itu, semua tetap spekulasi belaka," rincinya.

Ucapan ini menekankan bahwa penghitungan awal yang menggembirakan baru merupakan tahap eksplorasi awal. Sejumlah proses lanjutan seperti verifikasi geologi, studi kelayakan ekonomi, serta teknologi ekstraksi yang sesuai masih diperlukan sebelum cadangan ini dapat dimanfaatkan secara komersial.

Jika konfirmasi lebih lanjut menguatkan angka awal tersebut, Kazakhstan bisa berada di posisi ketiga setelah China dan Brazil dalam daftar negara dengan cadangan tanah jarang terbesar di dunia. Hal ini akan membuka peluang geopolitik dan ekonomi baru bagi negara tersebut. Sebelumnya, Kazakhstan dikenal dengan minyak, batubara, dan tembaga sebagai komoditas utamanya.

Namun, tantangannya tetap besar. Teknologi ekstraksi dan pengolahan tanah jarang masih terbatas di Kazakhstan, sehingga investasi asing dan kerja sama internasional kemungkinan besar diperlukan untuk mengembangkan industri ini dari tahap eksplorasi menjadi tahap produksi skala besar.




(rns/rns)





Hide Ads