Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
BTS Tenaga Angin dan Matahari Sulit Diadopsi

BTS Tenaga Angin dan Matahari Sulit Diadopsi


- detikInet

Jakarta - Menara telekomunikasi bertenaga angin dan matahari yang digadang-gadang menjadi pilihan sebagai BTS alternatif rupanya memiliki sederet hambatan dalam implementasinya.

Menurut Benoit Hansen, Direktur Teknis Hutchison CP Telecommunications (HCPT) Indonesia, tantangan- tantangan tersebut adalah mulai dari kondisi alam yang tidak mendukung hingga pada masalah perangkat.

Untuk BTS tenaga angin misalnya, wilayah Indonesia dianggap kurang banyak yang kaya akan angin. "Selain itu BTS harus ditempatkan pada tempat yang tinggi," ujarnya di sela peluncuran BTS hidrogen di Pondok Gede, Senin (23/11/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara BTS bertenaga matahari menghadapi hambatan dari sisi perangkat. "Dibutuhkan lahan yang lebih luas untuk membangun solar panel dan biayanya mahal juga," papar Benoit.

Alhasil, pilihan menggunakan BTS tenaga alternatif dari pemegang merek seluler '3' ini dijatuhkan kepada hidrogen. Ada 210 BTS hidrogen yang ditargetkan bakal dibangun '3' hingga Februari 2010.

"Namun kami tetap melakukan observasi untuk menggunakan tenaga alternatif lainnya," pungkas Benoit.

Meski investasi awal untuk pembangunan BTS hidrogen ini terbilang besar, namun diyakini akan terbayar dalam biaya operasionalnya. Penghematan yang bisa diambil diklaim hingga 30-40 persen untuk biaya maintenance.
(ash/faw)





Hide Ads