Seperti diketahui, dari delapan pemenang tender Wimax tersebut baru Telkom dan IM2 yang telah memenuhi kewajiban membayar up front fee dan biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi hingga tenggat pembayaran berakhir 17 November 2009. Sementara enam perusahaan lainnya belum.
Enam perusahaan itu adalah Berca Hardayaperkasa, First Media, Jasnita Telekomindo, Internux, serta Konsorsium Wimax Indonesia (akan menjadi PT Wireless Telecom Universal) dan Konsorsium PT Comtronics Systems dan PT Adiwarta Perdania.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalau pun itu sampai terjadi, zona wilayah BWA yang tersisa kemungkinan akan dikembalikan ke harga dasar untuk ditender kembali. Momen itu yang kemudian jadi saat yang tepat bagi Telkom dan IM2 untuk menguasai zona yang belum mereka dapatkan.
"Kemungkinan itu selalu terbuka, tetapi tentu perlu waktu bagi kami untuk melakukan evaluasi dulu," VP Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia malu-malu untuk menyatakan langsung niat ambil alih tersebut, saat dikonfirmasi detikINET, Jumat (20/11/2009).
"Sejauh ini fokus kami melakukan kewajiban pembayaran up-front fee dan BHP yang sudah diselesaikan beberapa waktu lalu," lanjut dia.
Lain dengan Telkom, IM2 malah blak-blakan menyatakan ketertarikannya. "Kami mungkin akan ambil jika yang lain tidak jadi membayar," cetus Corporate Secretary IM2 Andri Aslan.
Meski IM2 berminat, menurutnya, langkah untuk mengambil alih zona Wimax yang berpotensi kembali lowong tetap perlu dikaji bersama induk perusahaan, Indosat.
(rou/ash)