Berdasarkan studi Ditjen Postel, setiap satu rupiah yang diinvestasikan di seluruh lini bisnis telekomunikasi ternyata tingkat pengembaliannya (return on investment/ROI) tak sampai dua kali lipat. Setiap rupiah cuma menghasilkan 1,83 rupiah.
Meski demikian, angka yang diperoleh 2007 lalu itu dinilai Dirjen Postel Depkominfo, Basuki Yusuf Iskandar, sudah cukup bagus, walaupun sejatinya masih bisa ditingkatkan lagi. "Saya rasa sekarang multiplier effect-nya pasti sudah bertambah," ujarnya diΒ Jakarta, Jumat (26/6/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Antara upstream dan downstream ritel kurang berimbang. Tidak seperti di negara lain. Itu sebabnya setiap investasi di luar negeri bisa sampai lima kali lipat," katanya.
Di 2009 ini, Postel memperkirakan nilai perputaran uang di industri telekomunikasi mencapai Rp 100 triliun. Angka ini sedikit lebih banyak dari nilai Rp 80-90 triliun yang diproyeksikan para operator dalam wadah Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI).
Ketua Umum ATSI Merza Fachys, mengatakan, 10% dari hasil bisnis itu dikembalikan negara untuk kepentingan masyarakat dalam bentuk pajak.
"Itu sebabnya, jangan sampai komponen bisnis telekomunikasi, seperti menara, dirusak atau dirubuhkan. Ini agar kita bisa terus tumbuh dan meningkatkan pajak untuk negara," tandasnya. (rou/faw)