"Saya belum berani menyatakan angka pastinya karena masih menunggu tanda tangan Menteri Kominfo," ungkap Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Postel, Tulus Rahardjo, di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (4/6/2009).
"Namun, harganya masih di kisaran Rp 32 miliar untuk 15 blok. Angka ini telah disetujui Departemen Keuangan," lanjut sang Ketua Tim Pelaksana Tender BWA ini kepada detikINET.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika besok menteri sudah menandatangani dan mengumumkan draft penawaran harga dasar (reserved price) BWA ini kepada publik, lanjut Tulus, maka dalam 10 hari akan dilakukan seleksi prakualifikasi untuk menentukan perusahaan mana yang bisa lolos ikut tender.
Sementara, selain dari Departemen Keuangan, Tulus juga mengungkapkan, surat dari kantor Menko Perekonomian tentang aturan kepemilikan saham bagi perusahaan yang mengikuti tender telah keluar.
Β
"Kantor Menko Perekonomian menyatakan aturan Daftar Negatif Investasi (DNI) tidak
berlaku bagi perusahaan yang telah tercatat di bursa Indonesia. DNI hanya berlaku
bagi perusahaan tertutup," katanya.
Β
Menurut dia, langkah konsultasi perlu dilakukan mengingat adanya perusahaan
yang tinggi kepemilikan asingnya dan persyaratan tender memasukkan DNI sebagai
syarat mendapatkan lisensi packet switched tetap.
Β
Keluarnya putusan dari Menko Perekonomian tersebut diyakini membuat langkah Indosat
semakin mulus karena sebelumnya anak usaha Qatar Telecom itu diperkirakan akan
tersandung masalah kepemilikan saham. Saat ini 65% saham Indosat dikuasai oleh asing.
Dirut Indosat Johnny Swandi Sjam sendiri telah jelas menyatakan, perusahaannya sangat berminat untuk mendapatkan lisensi BWA demi mengembangkan inovasi jaringan pita lebar berbasis teknologi Wimax.
Sebelumnya, pihak lain yang juga terang-terangan ingin dapat lisensi BWA tersebut adalah 30 perusahaan yang tergabung Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII).
Gabungan perusahaan yang berencana membentuk Konsorsium Wimax Indonesia itu bahkan siap menghadirkan dana investasi dan operasional hingga US$ 300 juta untuk menunjukan keseriusannya menghadirkan akses internet cepat hingga pelosok negeri. (rou/faw)