Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Menagih Komitmen dari Kanada

Menagih Komitmen dari Kanada


- detikInet

Jakarta - Pelanggan adalah raja. Harusnya ini bukan hanya sekedar slogan kosong. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian jika berbicara mengenai produk BlackBerry, ponsel cerdas dari Kanada.

Belakangan ini, BlackBerry jadi tren di kalangan penikmat gadget mutakhir. Penjualannya booming. Dilihat dari grafik pertumbuhannya, handset yang biasa disebut BB ini terus menanjak. Bahkan, penjualannya mengalahkan penguasa ponsel cerdas, Nokia.

Jika lima tahun lalu, operator sampai harus merayu pelanggannya supaya mau pakai BB, kini sebaliknya. Pelanggan yang malah ngebet supaya operator cepat-cepat menyediakan barang. Penjualan BB laris manis bak kacang goreng.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelanggan BB tak dinyana tumbuh hampir 500% tahun lalu. Padahal, harga beli ponsel cerdas ini terbilang tidak murah. Siapa sangka pemiliknya di Indonesia, kini hampir mencapai 300 ribuan.

Pertumbuhan permintaan yang demikian besar, sering kali tak bisa dipenuhi operator. Apalagi soal harga yang masih relatif mahal. Akhirnya, bermunculan lah barang yang biasa disebut black market (BM). Barang pasar gelap.

Jelas, tak ada yang bisa menjamin barang BM. Tidak operator penyedia layanan sekalipun. Kalau pun ada jaminan, paling banter hanya garansi dari tokonya saja. Jaminan ala kadarnya.

Namun, toko pun biasanya akan lepas tangan kalau ternyata BB yang dipasarkannya ternyata bermasalah. Misalnya saja, PIN (personal identification number) yang jadi identitas BB, di-suspend oleh RIM (Research in Motion) gara-gara terjadi keanehan. Seperti yang marak terjadi belakangan ini soal kasus kloning PIN.

Sudah bagus kalau toko yang jual itu BB mau menggantinya dengan menawarkan BB yang baru. Namun siapa yang jamin kalau kejadian serupa tak terulang lagi.

Nah, kejadian seperti ini tak hanya merisaukan pelanggan. Operator pun mau tak mau kena getahnya. Jelas, mereka tak mau dituding lepas tangan cuma ambil enaknya (memungut biaya langganan) tanpa berbuat sesuatu akan kasus ini.

Alhasil, ketiga operator yang jadi mitra penyedia layanan BlackBerry: Indosat, Telkomsel, dan Excelcomindo Pratama (XL), sepakat mendesak RIM agar mau membangun kantor perwakilannya di Indonesia. Hal ini demi menunjukan komitmen terhadap pelanggan.

Direktur Marketing Indosat, Guntur Siboro, dan Group Head Brand Indosat Teguh Prasetya, bahkan sempat mengutarakan maksud itu langsung kepada RIM.

"Bukan hanya representatif office, tapi juga service center untuk Asia Tenggara dipindah ke Jakarta. Karena pasar Indonesia yang paling besar di kawasan ini," ungkap Guntur kepada detikINET, Senin (18/5/2009).

Lalu bagaimana tanggapan RIM? "Ini jadi pertimbangan mereka," jawabnya seketika.

Saat ajang Wireless Enterprise Symposium (WES) 2009 untuk pengguna BlackBerry di Orlando, Amerika Serikat, berlangsung belum lama ini, Indosat, XL, dan Telkomsel, juga meminta RIM agar membangun pabrik perakitan handset-nya di Indonesia. Tujuannya agar harga perangkat bisa lebih dijangkau lagi oleh masyarakat luas.

Sebenarnya, tak perlu muluk-muluk sampai bangun pabrik segala. Yang pasti-pasti saja, seperti bangun kantor perwakilan dan after sales service center. Kalau memang RIM benar-benar punya komitmen, rasanya itu bukan hal yang sulit.

(rou/wsh)







Hide Ads