Nampaknya bukan karena itu. Dirut Btel Anindya Bakrie berkilah, anjloknya laba bersih lebih dikarenakan rugi kurs Rp 14,2 miliar dibanding laba kurs Rp 25,9 miliar pada kuartal I-2008. Itu yang menyebabkan laba bersih Btel turun menjadi Rp 5,7 miliar dibanding periode sama tahun sebelumnya Rp 27,4 miliar.
"Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS memukul perseroan. Sebab, belanja modal Btel dalam US$. MeskipunΒ untuk hutang sebesar US$ 145 juta dalam mata uang asingΒ telah dilakukan lindung nilai atau hedging," jelasnya dalam keterangan tertulisnya yang dikutip detikINET, Senin (4/5/2009)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, dari kinerja keuangan, pendapatan kotor perusahaan naik 38% dari Rp 591,6 miliar pada kuartal I-2008 menjadi Rp 816,1 miliar pada periode sama 2009.
Kondisi itu memicu pendapatan bersih perusahaan tumbuh 49% dari Rp 441,8 miliar pada kuartal I-2008 menjadi Rp 658,2 miliar pada periode sama 2009.
Laba usaha juga meningkat 36,5% menjadi Rp 73 miliar dibanding kuartal I-2008 sebesar Rp 53,5 miliar. Lonjakan cukup tinggi juga terlihat pada laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang meningkat 59,7% (year on year).
Pada kuartal I-2008, EBITDA Bakrie Telecom tercatat senilai Rp 147,5 miliar, sedangkan periode sama 2009 meningkat menjadi Rp 235,6 miliar.
Anindya menambahkan, Btel masih tetap fokus mencapai target pertumbuhan yang ditetapkan sebelumnya. Untuk jumlah pelanggan, Bakrie Telecom menargetkan menjadi 10,5 juta pada akhir 2009 dan 14 juta pada 2010.
Untuk menggapai target yang dimaksud, pemilik lisensi fixed wireless access (FWA) ini akan terus mengembangkan daerah layanan ke pelosok negeri. Setelah kota besar seperti Manado, Balikpapan, dan Pontianak, pada kuartal I-2009, Bakrie Telecom mengembangkan usaha ke Jambi, Pematang Siantar, dan Cilacap.
(rou/ash)