Dalam pantauan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dan laporan beberapa operator, peningkatan trafik ini terjadi antara 10-40 persen saja.
"Hal itu diakibatkan penggunaan telekomunikasi yang meningkat untuk koordinasi internal parpol serta komunikasi saksi di daerah dengan parpol maupun tim pemantau dan surveyor dari lembaga survei yang menggunakan jasa telekomunikasi dalam memberikan laporan hitung cepat (quick count)," tutur BRTI dalam keterangan tertulisnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sedangkan trafik Indosat naik 4,7 persen dan 11 persen, dan Telkomsel rata-rata naik 2-5 persen untuk SMS dan voice," imbuh BRTI.
Apresiasi tentu saja patut diberikan untuk para operator. Namun, lanjut BRTI, tentunya perjalanan pesta demokrasi belum berhenti, mengingat agenda pemilihan presiden dan wakil presiden sudah menanti.
Tentu saja, prediksi trafik dalam pilpres akan berbeda dengan pemilu legislatif kemarin mengingat Parpol yang terlibat cukup banyak, dan apalagi pemilihan berdasarkan suara terbanyak dari caleg. Meski diperkirakan tidak akan setinggi trafik pemilu kemarin, bukan berarti jaringan telekomunikasi tidak perlu diperhatikan.
"Dengan bobot politis yang lebih besar, tentu saja sedikit gangguan akan berdampak lebih besar. Sehingga, mempersiapkan jaringan telekomunikasi guna mendukung pilpres mendatang juga tidak kalah pentingnya," tandasnya regulator telekomunikasi tersebut. (ash/faw)