Ketua Tim Penyelenggaraan BWA, Suhono Harso Supangkat, mengungkapkan ada selebar 100 MHz pita frekuensi yang akan ditender di pita 2,3 GHz dan 3,3 GHz. Dari kedua pita tersebut, 75% akan dialokasikan untuk BWA Nomadic, sementara 25% sisanya buat BWA Mobile.
Tender nantinya, lanjut Suhono, akan digelar untuk tiap region atau wilayah. Di tiap wilayah, akan dipilih delapan operator untuk memenangkan lisensi yang bisa dimanfaatkan untuk menggelar layanan broadband dengan teknologi Wimax.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum mencapai tahapan tender, pemerintah terlebih dulu mengujicoba layanan BWA teknologi Wimax tersebut di area terbatas. Lokasi yang diambil untuk ujicoba ini bertempat di Bandung, Jawa Barat.
Dalam ujicoba yang akan berlangsung selama tiga bulan hingga Desember, pemerintah menggandeng Telkom sebagai operator, dan PT Hariff serta PT Indonesian Tower sebagai penyedia perangkat Wimax. "Saat ini, kami masih ujicoba tertutup di Telkom Risti, Geger Kalong, Bandung," Suhono menambahkan.
Setelah ujicoba tertutup itu selesai, lanjut dia, pemerintah akan menggelar akses Wimax secara terbuka untuk publik Bandung. Rencananya, tiap penyedia perangkat Wimax akan menyiapkan masing-masing 10 titik akses.
"Kami siap untuk menyukseskan ujicoba Wimax ini," pungkas Sakti Wahyu Trenggono, pemilik Indonesian Tower. Perusahaannya membesut perangkat Wimax dengan software lokal yang kemudian dinamai TRG atau Technology Research Group.
Mau ngobrol seputar dunia telekomunikasi Indonesia? Gabung ke detikINET Forum.
(rou/ash)