Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Meta dkk Gandeng Polisi Global Berangus Sindikat Scam di Asia Tenggara

Meta dkk Gandeng Polisi Global Berangus Sindikat Scam di Asia Tenggara


Anggoro Suryo - detikInet

Ilustrasi penipuan online
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Perusahaan raksasa seperti Meta, Microsoft, Coinbase, hingga Starlink resmi bahu-membahu dengan Departemen Kehakiman AS (DOJ), Kepolisian Kerajaan Thailand, dan lembaga internasional lainnya untuk menggulung sindikat online scam (penipuan online) yang beroperasi di Asia Tenggara.

Operasi gabungan yang dikoordinasikan dari Washington, DC dan Bangkok ini mencetak sejarah baru. Untuk pertama kalinya, industri teknologi lintas sektor bersatu memberangus kejahatan siber lintas negara langsung dari sumbernya.

Hasilnya pun tak main-main. Lebih dari satu juta aset digital dan finansial milik sindikat penipu berhasil diberantas. Berikut adalah rincian hasil dari operasi gabungan ini:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

  • Meta: Sapu bersih lebih dari 1,4 juta akun, laman, dan grup penipu yang bertebaran di Facebook dan Instagram.
  • Microsoft: Memblokir sekitar 20.000 akun yang terdeteksi terkait erat dengan jaringan scam.
  • Starlink: Memutus koneksi ribuan perangkat internet satelit Starlink yang disalahgunakan di pusat-pusat markas penipuan.
  • Coinbase: Membekukan aset kripto senilai lebih dari USD 3 juta (sekitar Rp 48 miliar) dengan melacak jejak transaksi yang tidak bisa disembunyikan di blockchain.
  • Penangkapan Darat: Kepolisian Kerajaan Thailand sukses meringkus 63 orang tersangka yang diduga kuat menjadi operator di balik sindikat tersebut.

ADVERTISEMENT

Berbagi Intelijen Secara Real-Time

Operasi ini diinisiasi oleh Scam Center Strike Force dari DOJ AS yang mulai bergerak sejak 18 Mei lalu. Mereka mengumpulkan para petinggi perusahaan teknologi bersama FBI, Dinas Rahasia AS, serta aparat kepolisian dari Inggris, Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Thailand.

Mereka bertukar data intelijen secara real-time untuk memetakan pergerakan scammer. Langkah ini sangat krusial mengingat sindikat kriminal saat ini sangat licin. Mereka biasa mengeksploitasi jutaan korban di seluruh dunia lewat modus romance scam, penipuan investasi bodong, hingga kAsus kerja paksa massal di markas operasi mereka. Para penipu ini juga kerap berpindah-pindah platform untuk menghilangkan jejak.

Dalam keterangan yang diterima detikINET, VP and Deputy General Counsel Meta Chris Sonderby, menegaskan kebanggaannya bisa membawa perlawanan global ini langsung ke pusat-pusat penipuan yang berbasis di Asia. Senada dengan hal itu, Letjen Pol. Jirabhop Bhuridej dari Kepolisian Kerajaan Thailand menyebut pertukaran informasi yang tepat waktu adalah kunci, karena kejahatan lintas negara tidak bisa ditangani oleh satu lembaga saja.

Di ranah finansial, transparansi blockchain menjadi senjata ampuh bagi Coinbase untuk melacak aliran uang haram tersebut. Sementara itu, SpaceX melalui Vice President Starlink Business Operations, Lauren Dreyer, menegaskan komitmen mereka memutus akses perangkat satelit yang dipakai untuk tindak kriminal.

Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti bahwa ekosistem teknologi mulai bersikap tegas. Ke depannya, para raksasa teknologi dan penegak hukum dunia ini berkomitmen untuk terus melanjutkan perburuan demi melindungi keamanan pengguna internet.




(asj/asj)




Hide Ads