×
Ad

Perang Iran di Dunia Siber, Semasif Apa?

Anggoro Suryo - detikInet
Jumat, 13 Mar 2026 18:02 WIB
Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS
Jakarta -

Konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak hanya berlangsung di udara dan laut. Di balik serangan rudal dan jet tempur, perang juga terjadi di ranah siber, meski jarang dibicarakan secara terbuka.

Militer AS, khususnya United States Central Command, aktif mempublikasikan penggunaan senjata, kapal, dan pesawat dalam operasi mereka. Namun informasi mengenai operasi siber hampir tidak pernah diungkap secara rinci.

Meski begitu, peran serangan digital mulai terlihat. Kelompok peretas yang terkait Iran mengklaim telah melakukan serangan terhadap perusahaan teknologi medis AS, Stryker.

Komandan United States Central Command, Brad Cooper, sempat memberi petunjuk bahwa operasi siber memang digunakan dalam konflik ini.

"Kami terus menyerang Iran dari dasar laut hingga luar angkasa dan dunia siber," ujarnya.

Operasi Siber Sebelum Serangan Militer

Serangan siber sering digunakan jauh sebelum konflik militer dimulai. Ketua Kepala Staf Gabungan AS di Pentagon, Dan Caine, mengatakan penentuan target serangan dilakukan melalui proses persiapan yang bisa berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Dalam tahap ini, peretas yang bekerja untuk AS atau Israel diduga sudah menyusup ke berbagai jaringan komputer penting di Iran.

Target yang paling mungkin disusupi antara lain sistem pertahanan udara dan jaringan komunikasi militer, demikian dikutip detikINET dari BBC, Jumat (13/3/2026).

Laporan media juga menyebut kamera CCTV dan kamera lalu lintas di Iran kemungkinan diretas untuk membangun jaringan pengawasan besar yang membantu memantau aktivitas para pejabat militer, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Menurut pakar keamanan siber di Check Point, Sergey Shykevich, kamera yang terhubung internet menjadi target menarik karena mampu memberikan informasi situasi lapangan secara real-time dengan biaya rendah.

Para analis menilai serangan siber biasanya tidak menjadi senjata utama dalam perang, melainkan berfungsi sebagai "force multiplier" yang memperkuat operasi militer konvensional.

Membutakan Sistem Komunikasi

Dalam konferensi pers setelah serangan awal, pejabat AS mengatakan tim di US Cyber Command dan US Space Command menjadi pihak pertama yang bergerak untuk melemahkan kemampuan Iran dalam melihat, berkomunikasi, dan merespons serangan.

Beberapa analis menduga jaringan menara telepon seluler juga mungkin diganggu atau dimatikan untuk menghambat komunikasi militer Iran.

Teknik seperti ini pernah terlihat dalam konflik lain, termasuk perang antara Rusia dan Ukraina.

Iran Mulai Membalas

Sejauh ini, aktivitas siber Iran dalam konflik tersebut relatif terbatas dibandingkan reputasinya sebagai salah satu kekuatan siber global.

Serangan paling menonjol yang dikaitkan dengan Iran adalah terhadap Stryker oleh kelompok peretas yang disebut memiliki hubungan dengan Iran.

Kelompok tersebut dilaporkan menggunakan wiper malware, jenis malware yang dirancang untuk menghapus data secara permanen.

Iran sebelumnya dikenal menggunakan teknik serupa dalam serangan terhadap perusahaan minyak Saudi Aramco pada 2012 yang menghancurkan sekitar 30.000 komputer.

Meski aktivitasnya saat ini terlihat terbatas, para pakar keamanan siber mengingatkan bahwa Iran masih berpotensi melancarkan serangan balasan melalui kelompok peretas yang didukung negara maupun kelompok hacktivist.



Simak Video "Video: Detik-detik Serangan di Dekat TV Pemerintah Iran!"

(asj/fay)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork