×
Ad

detikSore

Adu Teknologi Alutsista Dalam di Perang AS-Iran

20detik Signature - detikInet
Selasa, 03 Mar 2026 14:44 WIB
Foto: Fildan
Jakarta -

Situasi terus memanas di Timur Tengah akibat serangan rudal balasan dari Iran ke beberapa wilayah negara teluk. Pihak Iran mengatakan hantaman roketnya menargetkan Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di wilayah tersebut.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengatakan akan membalas pembunuhan Ayatollah Khamenei dan pejabat senior lainnya, dia menyebut aksi tersebut sebagai 'tugas dan hak sah' dari negara Iran.

"Republik Islam Iran menganggap upaya pembalasan dan membalas dendam kepada para pelaku dan penghasut kejahatan bersejarah ini sebagai tugas dan haknya yang sah, dan akan menggunakan kekuatan maksimalnya untuk memenuhi tanggung jawab besar ini," kata Pezeshkan dikutip dari detikNews.

Salah satu lokasi paling terdampak dari serangan balasan Iran adalah markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain. Washington memverifikasi jika terdapat korban jiwa dalam operasi militer yang terjadi secara cepat tersebut.

Namun yang menjadi perhatian bukan hanya serangan balasannya, melainkan jenis senjata Iran. Mereka kedapatan menggunakan drone murah dalam jumlah besar. Dikutip oleh detikInet, dilansir dari Bloomberg, Iran mengandalkan Shahed-136. Senjata ini memiliki julukan kamikaze drone atau rudal jelajah sekali pakai berbiaya rendah.

Drone ini relatif sederhana secara teknologi, namun efektif dalam strategi perang asimetris. Shahed-136 diproduksi massal, berukuran kecil, dan dapat diluncurkan dari transportasi bergerak sehingga sulit dideteksi oleh radar. Dari segi biaya produksi, senjata ini juga jauh lebih murah dibandingkan rudal balistik atau sistem pertahan udara canggih seperti MIM-104 Patriot dan THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) yang digunakan untuk menjadi counternya.

Kekuatan misil Iran sangat penting dalam strategi berperang mereka menghadapi AS-Israel. Dikutip dari detikInet, analis pertahankan menggambarkan kemampuan balistik Iran sebagai yang terbesar dan paling beragam di Timur Tengah. Hal itu meliputi, rudal balistik dan rudal penjelajah. Para pejabat militer Iran disebut lebih berinvestasi pada program rudal dibandingkan pada angkatan udaranya. Hal ini tak lepas dari beberapa alutsista atau pesawat yang sudah tua.

Rudal balistik Iran mampu menempuh jarak antara 2.000 km hingga 2.500 km. Dalam kata lain roket-roket Iran bisa mencapai Israel dan pangkalan-pangkalan yang terkait dengan AS di seluruh wilayah teluk. Sampai saat ini tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah rudal yang dimiliki oleh Iran.

Teheran telah menghabiskan bertahun-tahun memperkuat sebagian programnya di terowongan penyimpanan bawah tanah, pangkalan tersembunyi, dan lokasi peluncuran yang terlindungi di seluruh negeri. Strategi ini akan menguntukan Iran dalam bertahan sekaligus menyusun strategi selanjutnya.

AS juga tak mau kalah soal teknologi dalam serangan militer yang mereka beri nama 'Operation Epic Fury' ini. Dikutip dari detikInet, Militer Paman Sam dilaporkan menggunakan teknologi AI Anthropic bernama Claude dalam operasi militernya ke Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) memanfaatkan Claude untuk analisis intelijen, identifikasi target, serta simulasi skenario pertempuran sebelum serangan diluncurkan.

Penggunaan AI dalam konflik skala besar seperti ini menunjukkan jika AI kini mampu berintegrasi dalam infrastruktur pertahanan modern dan menampilkan visualisasi intelijen geospasial yang kompleks. Lalu, bagaimana potensi teknologi AI diterapkan jika perang terus berlanjut? Apakah perang juga menjadi medan simulasi untuk teknologi AI terbaru? Simak obrolannya hanya dalam Sunsetalk bersama Redaktur detikInet.

Untuk melihat langsung dampak perang di kawasan Timur Tengah, detikSore akan menghadirkan Warga Negara Indonesia yang saat ini tengah berada di Bahrain. Seperti diketahui, Bahrain juga menjadi sasaran rudal milik Iran karena di wilayah tersebut Amerika Serikat memiliki pangkalan laut.

Berdasarkan informasi terbaru, banyak warga Indonesia yang mengamankan diri di dalam rumah. Mereka memilih untuk membatasi kegiatan di luar ruangan untuk mengurangi risiko dari eskalasi perang.

Bagaimana kabar mereka di sana? Seperti apa situasi Bahrain di tengah konflik tak berkesudahan ini? Simak laporan langsung Wakil Ketua Indonesian Diaspora Network Bahrain, Muhammad Nafis.

Ikuti terus ulasan mendalam berita-berita hangat detikcom dalam sehari yang disiarkan secara langsung langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 15.30-18.00 WIB, di 20.detik.com dan TikTok detikcom. Sampaikan komentar Anda melalui kolom live chat yang tersedia.




(gub/vys)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork