Jaksa federal Amerika Serikat mengumumkan vonis berat terhadap Rui-Siang Lin, pendiri sekaligus operator marketplace narkoba dark web bernama Incognito Market. Lin dijatuhi hukuman 30 tahun penjara, diwajibkan menyita aset lebih dari USD 105 juta (sekitar Rp 1,7 triliun dengan kurs Rp 16.000), serta menjalani lima tahun masa pengawasan setelah bebas.
Pengumuman ini disampaikan oleh US Attorney untuk Distrik Selatan New York, Jay Clayton, yang menyebut Lin sebagai salah satu pengedar narkotika online paling produktif di dunia. Lin, pria kelahiran Taiwan, mengoperasikan Incognito Market sejak Oktober 2020 dengan memanfaatkan jaringan anonim Tor untuk menghindari aparat penegak hukum.
Clayton menegaskan teknologi seperti internet, desentralisasi, hingga blockchain tak membuat siapapun menjadi kebal hukum untuk menjalankan bisnis distribusi narkoba, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Kamis (5/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pembacaan vonis hari ini menunjukkan satu hal: Anda tidak bisa bersembunyi di balik bayangan internet. Dan pesan besar kami sederhana: internet, desentralisasi, blockchain, dan teknologi apapun bukan menjadi izin untuk mengoperasikan bisnis distribusi narkoba," jelas Clayton.
Selama beroperasi hingga ditutup pada Maret 2024, Incognito Market memfasilitasi penjualan lebih dari 1.000 kilogram kokain, 1.000 kilogram metamfetamin, serta ratusan kilogram narkotika ilegal lainnya. Marketplace ini juga menjual sekitar 4 kilogram oksikodon palsu yang dicampur fentanyl, yang dilaporkan menyebabkan kematian seorang pelanggan berusia 27 tahun di Arkansas.
Incognito Market memiliki basis pengguna yang sangat besar, dengan lebih dari 400.000 pembeli dan 1.800 vendor. Total transaksi narkoba yang diproses mencapai lebih dari 640.000 transaksi individual. Dari aktivitas tersebut, Lin mengumpulkan lebih dari USD 105 juta dalam sistem "bank" kripto yang dikelola sendiri.
Menjelang penutupan situs, Lin diduga mencuri sedikitnya USD 1 juta (sekitar Rp 16 miliar) dari akun marketplace. Ia juga sempat mencoba memeras pengguna dan vendor dengan ancaman akan membocorkan data internal Incognito Market ke publik.
Lin diketahui menggunakan nama alias "Pharaoh" dan mengembangkan sendiri kode platform tersebut. Ironisnya, di saat yang sama ia bahkan sempat memimpin pelatihan empat hari untuk polisi St. Lucia mengenai Cybercrime and Cryptocurrency, sambil tetap menjalankan operasi perdagangan narkoba online.
Hakim Distrik AS Colleen McMahon menyebut kasus Incognito Market sebagai perkara narkoba paling serius yang pernah ia tangani selama 30 tahun kariernya. Lin akhirnya mengaku bersalah pada 16 Desember 2024 setelah investigasi panjang yang melibatkan FBI, NYPD, Homeland Security Investigations, FDA, dan sejumlah lembaga federal lainnya.
Clayton menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa tidak ada hal "ajaib" atau kebal hukum dari darknet seperti Tor. Meski Tor dapat digunakan untuk komunikasi aman dan privasi, jaringan tersebut bukan tempat perlindungan permanen bagi pelaku perdagangan narkoba, kejahatan seksual anak, maupun aktivitas ilegal lainnya.
(asj/rns)

